Dear Pembaca yang Budiman,
Wahai anak bangsa Indonesia, pahamkah anda makna lagu Indonesia Raya karya WR Supratman? Ada proses pembangunan ideal di dalam baitnya, yaitu "...bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya...".
Bila melihat motto blog ini "SEHAT rohani, sosial, mental, emosi, dan raga untuk Kebahagiaan dan Keselamatan", mari kita coba kupas dan agak dalamin sisi kehidupan sebagai manusia yang hidup. Manusia adalah mahakarya ciptaan (masterpiece) TUHAN YANG MAHA KUASA. Tidak ada bandingan dan tiruan oleh pihak selain TUHAN YMK. Manusia diciptakan memiliki "harta", yaitu akal, budi, roh, jiwa, emosi dan raga yang saling berhubungan, yang tidak dimiliki oleh, baik hasil ciptaan maupun hasil temuan. Manusia hidup dan menjadi hidup bila mengelola "harta" tsb, seiring memanfaatkan materi yang sudah ada di dalam/di/di atas bumi ini.
Sering mendengar ungkapan2 ini? Aspek material (AM) dan aspek non material (ANM)? Beberapa definisi dari ke2 aspek tersebut, sbb yaitu:
1. AM berupa sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan keduniaan. ANM berupa segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek moral dan agama
2. AM berhubungan dengan kebendaan/materi. ANM berhubungan dengan non kebendaan/materi (al. jiwa, spiritual, rohani, ideologi, nilai, kepercayaan, dll)
3. AM memiliki karakteristik bisa ditemukan/diolah dalam suatu batasan karena sudah ada dan tinggal digunakan. ANM memiliki karakteristik tidak terbatas kualitas dan kuantitas, bisa berubah/berkembang, bila dalam masyarakat/individu merupakan proses kesadaran diri dan eksistensi subyek.
Pembaca dengan sendirinya sudah bisa menilai, bagaimana pembangunan Indonesia Raya ini? Apa sudah sesuai dengan maksud WRS? Membangun jiwa dahulu baru badan? ANM dahulu baru AM? Sisi rohani-spiritual-jiwa-mental dahulu baru fisik/raga?
Sebagai ulasan, pembangunan di masa2 awal proses menuju kemerdekaan sepertinya sudah cocok, berjuang dengan merdeka atau mati. Di sini, merdeka untuk hidup, hidup yang paripurna sebagai manusia. Kalo tidak mendingan mati (tidak dijajah sesama manusia dan dianggap bukan manusia). Beberapa tahun, pembangunan berproses, ada pemberontakan/chaos, dan sekali lagi membuktikan bahwa pembangunan Indonesia Raya sedang benar dilakukan. Pemberontakan/chaos berhasil ditumpas. Juga situasi dan kondisi demokrasi, pergantian parlemen dan pemerintahan tidak mengganggu pembangunan paripurna. Semua bisa berjalan sesuai idealnya suatu pembangunan.
Kacaunya pembangunan yang ideal ini, karena penguasa pembangunan mulai fokus pada materi, mendahulukan aspek duniawi dan mengesampingkan hakikat manusia itu sendiri. Pembangunan adalah perubahan atau perkembangan. Mau tidak mau, yang terkena manusia dan lingkungan, harus beradaptasi dan menjadi lebih benar/baik. Jadi manusia yang harus mengatur pembangunan, bukan diatur oleh pembangunan. Pada masa2 kekacauan tsb, yang dikejar adalah pengakuan materi atas Indonesia (proyek mercusuar, pemusatan pembangunan di pulau Jawa, melupakan pembangunan luar pulau Jawa, bahkan tidak memerdulikan penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan). Utama dari semua itu adalah perilaku korupsi dari penguasa.
Masa sekarang, ada perubahan namun tidak konsisten dan serius dilakukan. Ada visi, misi dan strategi namun implementasi tidak berhasil. Tidak ada kesinambungan dan komitmen antar penguasa di pusat, provinsi dan KK. Banyak kepentingan golongan/pihak yang tidak membantu pembangunan. Korupsi dan dampaknya tetap terjadi dan makin parah. Penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan merajalela. Makin banyak yang kaya materi dan miskin non materi. Angka kriminalitas tinggi, angka kematian manusia juga masih tinggi.
Banyak orang pintar dan cerdas di Indonesia namun apa dampaknya bagi pembangunan. Contoh kecil pembangunan yang "salah". Masa dulu, TK tidak wajib bisa baca dan tulis, sekarang sistem pendidikan membuat stress anak usia sekolah, tawuran pelajar merajalela, penyaring akan perilaku negatif globalisasi tidak bagus di dalam diri anak2 muda Indonesia. Wah....ngeri membayangkan proses negatif ini dan efek bahkan dampak yang bisa terjadi!
So, wahai manusia, apapun peran anda, penguasa kek, politisi kek, birokrat kek, ilmuwan kek, rakyat kek, militer kek, penegak hukum kek, atau apapun kek, jangan ulangi, kembali ke atau mengadopsi perilaku perbudakan, kolonialisme, imperialisme. Jangan bilang itu hanya penjajahan oleh bangsa/negara lain. Ingat ini jaman maju, manusia diberi "harta", dia manusia bisa menjajah lewat budaya (globalisasi, liberalisme), kekuatan ekonomi (kapitalisme), kekuatan politik (democrazisme) dll. Dia bisa menggunakan "harta" nya untuk menjajah manusia lain yang tidak mengelola "harta" nya untuk kesejahteraan sesama manusia dan ciptaan lain dari TUHAN YMK.
Ingat dan marilah kita membangun, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan bangsa sendiri. Semuanya untuk INDONESIA RAYA.
Salam SEHAT, don_C
Referensi:
1. Paradoks Perubahan Masyarakat Kita. Diakses di http://elfitra.multiply.com/journal/item/30. 19 April 2011
2. Proses diskusi dalam milist2 dan jejaring sosial yang membahas AM dan ANM s/d April 2011
3. Jim Supangkat dan Rizki A Zaelani. Ikatan Silang Budaya. Seni Serat Biranul Anas. Diterbitkan Arts Fabrics bekerjasama dengan KPG. Cetakan Pertama, Nopember 2006
4. Situs2 elektronik yang membahas pembangunan dan peradaban.
0 komentar:
Poskan Komentar