Dear Pembaca Yang Budiman,
Apa yang akan anda perbuat bila berada dalam peristiwa ini? Pada suatu sesi sharing antara ilmuwan senior dengan calon2 ilmuwan terkait materi perilaku ilmiah (research conduct), di satu sisi ilmuwan senior memvonis salah satu peserta melakukan plagiat. Di sisi lain, makalah yang dipresentasikan ilmuwan senior (halaman pertama memuat judul dan nama ilmuwan senior tsb), namun isi tidak mengandung referensi atau acuan bahkan di akhir makalah tidak ada juga daftar kepustakaan dari makalah yang dia buat.
Tentu, bisa banyak yang terjadi, misal sbb:
- Kaget dengan vonis itu
- Tidak menyangka ada perilaku "berani" tsb
- Berpikir ahh....pemberi vonis juga plagiat, karena makalah tanpa referensi
- Sungguh terlalu ilmuwan senior tersebut
- Sungguh kasihan dengan calon ilmuwan tersebut
- dll bisa empati pada calon ilmuwan atau tidak simpati pada ilmuwan senior.
Pembaca, nurutku, kalo memang ilmuwan gunakanlah perilaku ilmuwan untuk menyikapi peristiwa tsb. Ada tanggung jawab moral, ilmiah dan etika. Jadi tidak usah ikut2an memvonis. Kita hanya bisa simpati pada "nasib buruk" calon ilmuwan dan simpati pada "lupa diri" ilmuwan senior. Yang harus kita lakukan adalah mengelola sistem atau mekanisme untuk pergaulan ilmiah selanjutnya. Dalam ajaran iman, mungkin di semua iman ada, kita sebagai sesama manusia tidak berhak menghakimi, karena bukan kita manusia yang menciptakan.
Apa sih itu tanggung jawab moral, ilmiah dan etika dalam kehidupan ilmuwan? Baik mari kita dalami bersama.
Tanggung jawab MORAL (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan nilai-nilai moral (mendukung kebenarankah?, lebih besar manfaat dari mudaratkah?, dsb) yang dianut dan dipahami bersama dalam lingkungan besar dimana ilmuwan hidup dan berkarya. Contoh implementasi bisa melihat kasus riset susu formula yang heboh belakangan ini. Secara moral, apakah periset sudah memikirkan efek atau dampak hasil riset kepada konsumen, pekerja dan pabrikan? Ini baru satu hal.
Tanggung jawab ILMIAH (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan persyaratan2 ilmiah (sahihkah?, relevankah?, bermanfaatkah?, orijinalkah? dsb) yang dianut dan dipahami oleh komunitas ilmuwan. Contoh implementasi adalah data dan/atau informasi yang beredar apakah berdasarkan bukti/fakta yang sesuai realita? Ini baru satu hal.
Tanggung jawab ETIKA (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan etika2 keilmiahan (boleh atau tidak boleh, layak atau tidak layak, dsb) yang dianut dan dipahami oleh komunitas ilmuwan. Contoh implementasi adalah perijinan untuk mengumpulkan data/mengambil spesimen. Ini baru satu hal.
Jadi belajar dari kasus vonis plagiat di contoh event di atas, atau kalo mau pada kasus2 perilaku ilmuwan yang tidak bertanggung jawab yang masih banyak terjadi di dunia dan Indonesia, sewajarnyalah kita kembali pada sistem atau mekanisme yang kita buat. Satu prinsip adalah segala sesuatu yang dibuat oleh ilmuwan tetap terbuka peluang untuk timbul ketidaksesuaian dalam proses dan hasil. Jadi hal2 negatif yang timbul dalam proses dan hasil adalah sesuatu yang mau tidak mau, suka tidak suka, niscaya pasti bisa terjadi.
Jadi kalo mau salah2an ya salahkan diri sendiri, yang membuat dan yang berpartisipasi. Tapi itu bukan akhir dari kehidupan ilmuwan kan? Tugas dasar ilmuwan adalah menemukan "harta karun" yang sudah disediakan (diciptakan) oleh Sang Mahailmuwan (TUHAN YANG MAHA KUASA). Implementasi tugas inilah yang harus kita, ilmuwan, kawal dengan perilaku yang bertanggung jawab secara MORAL, ILMIAH dan ETIKA.
So, majulah, berkaryalah dan temukanlah "harta karun" itu, teman2 ilmuwan. Salam SEHAT.
0 komentar:
Poskan Komentar