Jumat, 11 Maret 2011

ISU: sebuah tool kehidupan menuju perubahan yang positif

Dear Kawans,

Sering mendengar isu kan? Awas kalo mikir dan bilang tidak! Hahahaha.

Menurut KBBI, isu adalah masalah yang dikedepankan untuk mendapatkan tanggapan. Isu muncul seiring adanya kebutuhan akan perhatian, atau karena ada penelantaran kondisi negatif, atau karena ada penderitaan massal.

Artinya, dalam kehidupan manusia, isu tidak pernah tidak muncul. Isu adalah suatu keniscayaan, yang mau tidak mau, suka tidak suka, pasti muncul. Ini juga dipengaruhi oleh sifat manusia sebagai mahluk sosial, yang butuh interaksi dengan sesama manusia.

Nah, melihat kondisi kehidupan NKRI ini, tentu kita tahu sudah banyak isu, sebutlah mulai awal tahun 2011 ini. Mulai dari politik (angket mafia pajak, reshuffle kabinet, fasilitas pejabat negara/publik, dll), hankam (kekerasan, anarki, teroris, dll), humaniora (malpraktek rumah sakit/dokter, pembunuhan, korupsi, ngutang, PSSI/pembinaan olahraga, dll).

Bila cermat, kita tentu mampu menilai apakah isu2 yang dikedepankan (baca dilemparkan, lebih banyak oleh bukan pihak yang berkepentingan langsung, tapi oleh broker isu/kepentingan) sesuai substansi masalah atau hanya sekedar mengalihkan perhatian publik dari isu yang sebenar.

Dalam hal isu, secara mendasar adalah suatu alat yang wajar dan bagus untuk menyelesaikan masalah, makanya setiap proposal/protokol riset perlu merumuskan isu atau pertanyaan riset yang butuh dijawab, dan perlu ada teknik/tolok ukur dalam mengelola isu.

Mengadopsi dari UNICEF dalam http://www.unicef.org/indonesia/id/06_Modul_5_Perumusan_Isu_Strategis.pdf, ada 7 tolok ukur untuk menilai isu, yang aku sesuaikan dalam beberapa hal, yaitu:
1. Aktual: apakah isu tersebut sedang jadi pusat perhatian?
2. Urgensi: apakah isu tersebut mendesak?
3. Relevansi: apakah isu tersebut sesuai kebutuhan?
4. Dampak positif: apakah isu tersebut bila dibahas akan membantu perubahan?
5. Kesesuaian: apakah isu tersebut sesuai dengan visi dan misi dari pihak yang membutuhkan penyelesaian?
6. Inklusi: Apakah dalam pembahasan dan penyelesaian isu, pihak yang membutuhkan dapat berpartisipasi?
7. Sensitivitas: apakah isu tersebut aman dari efek dan/atau dampak sampingan yang negatif?

Sebenarnya, masih banyak teknik/tolok ukur lain, namun yang ini menurutku sudah cukup layak kita jadikan alat acuan untuk membahas isu-isu di NKRI ini. Ayo dan mari kawans.

Tolok ukur 1. NKRI ini, dalam hal ini sebagian besar warga, suka seX dengan isu. Mungkin ini udah jadi sifat manusia kali yah? Kok begitu? Yah, lihat aja di stasiun, terminal, atau tempat2 umum lain, pasti banyak kita jumpai orang yang sedang membaca, bercakap2, mengakses gadget untuk lihat situs2 informasi. Nah, tolok ukur 1 ini adalah bersifat general.

Tolok ukur 2. Nah, ini sudah mulai spesifik dan substantif. Apakah isu2 yang ada di NKRI jadi pusat perhatian masyarakat umum. Banyakan tidak kan? Yang iya hanya kasus korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan lahir batin orang miskin dan bodoh tadi (termasuk yang jatuh miskin karena sakit). Yang lain, ditumpangin lewat....yah untuk pengalihan tadi, misal PSSI, reshuffle kabinet, sufor tercemar bakteri ES.

Yahhhhh, ............napa awak jadi terhanyut alunan isu2....mari kita lihat tolok ukur 3, sesuai kebutuhan kah? ......ini harus cerdas mengentifikasikan kebutuhan siapa? Kalau "masif"....mudah2an benar nih istilah....dari brother kecik awak lah ini istilah....artinya besar dan luas dan massal ya? Kalau masif baru oke! Berarti contoh isu2 pengalihan bisa kita nilai dengan tolok ukur 3, bisa dapat mana yang stratejik mana yang pengalihan. Jadi tak hanyut kan awak.....

Nah, tolok ukur 4, apa ada dampak positif untuk perubahan. Ini juga harus masif..kan NKRI. Tak soal bila perubahan itu lambat (tidak masuk mainstream) yang penting kontinyu dan berkesinambungan. Ingat kata2 tokoh dunia "benarlah orang yang masuk dalam barisan minoritas yang membawa perubahan benar, karena lama2 minoritas ini akan jadi mayoritas". Tentu benarlah itu, wong sifat dasar manusia adalah kenyamanan yang hakiki bukan semu alias analog dengan kebenaranlah akhirnya yang menang...tentu dengan memperjuangkan itu.

Tolok ukur 5, visi dan misi. Apa intervensi terhadap isu sesuai dengan cita2 dari yang membutuhkan. Soal ini, di NKRI, seperti ulasan Ekonom Bang Faisal Basri, MA di Kompas minggu lalu, KORUPSI menyebabkan penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan. Nah ini lah cita2 yang dibutuhkan, yaitu "Pemberantasan Korupsi dan Efek/Dampak Negatif Korupsi".

Tolok ukur 6, keikutsertaan dari pihak yang mebutuhkan. Kalo dalam isu2 pengalihan..mana bisa. Coba, emang bisa intervensi kasus PSSI? paling demo aja, boikot kalo mau. Kalo reshuffle....emang bisa????? Nah, kalo isu korupsi bisa, sebarkan bukti2 fisik kasus korupsi (foto, audio, video, dokumen, dll)......dijamin.....kebakaran jenggot lalu buat isu pengalihan....wkwkwkwk.....wekwekwek.

Tolok ukur 7. Intervensi isu apa menimbulkan dampak negatif........kalo isu pengalihan....wah....adaaaa! Energi untuk isu sebenar habissssssss! Kalo isu korupsi, misal, dampak negatif tak ado, kalo dampak positif banyak.....hilangnya kemiskinan, kebodohan dan penderitaan hidup.

Nah, kawansku.....Mr. President John F. Kennedy pernah berujar "Jangan tanyakan apa yang negaramu dapat berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu?".

So.......aku tau kamu dan kamu tau aku....apalagi bila kita sesama PN.....dan berinteraksi dengan orang, barang dan jasa. Banyak godaan dan realita lingkungan berpotensi negatif. Tidak ada kata terlambat, mulai pelan2 tapi jangan tidak sama sekali....sertai dengan advokasi, mobilisasi dan doa pada TUHAN mu dan TUHAN ku.

Selamat bekerja dan Selamat Berkarya. AMEN 

0 komentar: