Temans Pembaca yang awak kasihi,
Sudah lihat apa dan bagaimana dampak dari isu pengalih dan isu sebenar? Pusing, selow, masa bodoh, lantak kaulah itu, sukak-sukak kaulah pakcik/makcik, kau atur lah, dll, mungkin ada salah satu/lebih dari satu ekspresi itu yang cocok dengan anda.
Mari tengok dengan cermat pemberitaan di media cetak/elektronik, ada yang nafasnya mengangkat hati nurani rakyat, amanah rakyat, pembela umat, pembela kelompok/kepentingan, dll. Bahkan, ada dalam satu media, ada berita/isu yang saling berlawanan, misal satu memberitakan A, di kolom lain memberitakan B. Macam mana pulak?
Media itu, apa cuma nak cari omset dan oplah baca aja kah? Tak ada "nyali moral" memberitakan aslinya. Riset (investigasi) jurnalis sudah jarangkah...?
Hahaha...jangan berkernyit dahi dulu kawans. Itulah membangun. Mau konteks lain.....nah bacalah berikut ini.
Negara dan bangsa yang merupakan saudara tua dari timur (Jepun) sedang mengalami musibah gempa dan tsunami; yang dinilai lebih tinggi tingkat keparahannya dari tsunami Aceh. Tapi ingat, tingkat tinggi itu juga dibarengi dengan tingkat tinggi kepedulian rakyat dan pemimpin.
Nah, ini banyak dikomentari di Indonesia. Ohhhh, membangunlah Indonesiaku. Pantes kita dikenal banyak komentator dan istilah asbun dan NATO muncul dari Indonesia. Ingat, kritik pelajar di LN di hadapan Presiden kita dulu. Dibalas "emosi" pulak dari si Presiden, kira2 "jangan sukak menjelek2kan negara sendiri". Jadi berkomentarlah jangan didepan yang dikomentari.....qiqiqiqiqi.
Kawans, .... tenang paragraf di atas hanya sekedar kopibrik ato tibrik. Sebenarnya, apa sih INDONESIA, sehingga sulit kali kelihatan kinerja pembangunannya?
Sebelum merdeka sebagai NKRI, pra 17 Agustus 1945, embrio2 sudah ada. Kenapa awak berani sebut embrio? Yah, lihat aja, setelah jadi NKRI, tetap gampangan di adu domba, diberi isu sampah, dipanas2i, dll. Juga hal2 yang sebenarnya positif tapi tetap dibawa dalam konteks negatif. Ingat "korupsi berjamaah", standar KKN aja masih bingung dan masih ada salah implementasi, lalu budaya malu bila diberitahu kelemahan/kejelekan (moratorium utang, budaya koteka, rumah2 adat, dll).
Tapi brur, banyak tokoh2 bangsa ini! Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan Bung2 lain. Ki ini, Kyai ini, Pak ini, Ibu ini. Iyalah kawans, awak tak nafikan itu. Tapi apa penerusnya, sadar dan paham, nak buat apa dengan hasil perjuangan tokoh2 itu? Kan lebih enak jadi pengisi, peniru, ....yah paling maksimal inovator. Inventor tak nak lah.....tak perlulah.....lama duitnya tu, ...kapan terkenal dan balik modal awak. Jiaaaahhhhh.
Mau jadi pengisi pembangunan di INDONESIA yang MERDEKA ini. Camkan:
1. Bangsa yang bertumbuh adalah bangsa yang berjuang untuk bertumbuh
2. Upayakan dan Ikhlaskan apa yang kau berikan pada INDONESIA
3. Jangan malu jadi INDONESIA, tunjukkan peradaban INDONESIA sebenar
4. Manfaatkan dan peliharalah hasil bumi INDONESIA untuk anak bangsa.
Nah, mau jadi pekerja, buruh, pendidik, profesional, pelayan, petinggi, pemilik, dll, terserahlah..itu perjuanganmu. Tapi camkanlah apa dan bagaimana kau menjadi itu tadi!
Terakhir, ingat KORUPSI membunuh peradaban generasi anak cucu kita, yang dengan ikhlas sudah menitipkan INDONESIA ini pada kita, pendahulu2 mereka. Sudikah lihat mereka menderita dalam hidup, menjadi miskin, menjadi bodoh, dan dijajah kembali oleh budaya dan peradaban selain INDONESIA.
TUHAN ampunkanlah dosa kami dan bukalah akal budi kami untuk membangun sesuai amanah yang KAU berikan kepada kami, sebagai Pengelola Bumi INDONESIA. AMEN
0 komentar:
Poskan Komentar