Begitu hot isu akibat riset susu formula akhir-akhir ini. Saya jadi ingat nilai2 dalam dan di institusiku yang juga banyak Peneliti, boleh salah tidak boleh bohong, kebebasan dalam keteraturan/ketertiban, juga ada menjunjung tinggi moral, etik dan ilmiah.
Lalu sempat baca di situs berita elektronik bahwa IPB mengatakan mereka tidak berwenang menginformasikan nama/merek susu formula dan terikat dengan mekanisme ilmiah dan akademik. Ini memang patut diapresiasi, namun ..... tidak mampu menenangkan masyarakat dan menyelesaikan isu ini. Di lain event, ada sharing dari tokoh peneliti di institusiku bahwa sebagai Peneliti sebaiknya juga sudah memprediksikan/memperhatikan akibat dari isu riset yang diangkat dan siap bila akibat cepat muncul dari pihak2 yang terkena/berkepentingan.
Nah, hebatnya daya tahan beberapa kelompok konsumen/pemakai/pemberi susu formula terhadap isu susu formula mengandung bakteri ini ada yang sangat tinggi atau tinggi. Mereka "pasrah" dan tetap mengonsumsi karena kebutuhan dan tuntutan dan tanggung jawab atau keterpaksaan.
Sebagai bagian dari kalangan ilmuwan, mari kita baca dulu kutipan dari artikel Elisabeth Rukmini berikut ini (artikel lengkap dapat dibaca dengan mengklik judul tulisan di atas).
Peran Ilmuwan: Politicization of science tidak terkait hitam putih sains dan politik atau pengambilan keputusan. Dalam isu-isu terkait sains, teknologi, dan kehidupan masyarakat, politicization of science penting dipandang sebagai advokasi. Contoh, isu lingkungan terkait sumber energi terbarukan atau perubahan iklim. Pengambil keputusan membutuhkan tenaga ahli untuk menilai aksi apa yang perlu dipilih. Pielke dalam buku The Honest Broker (2008) merangkum empat peran ilmuwan dalam politik dan policy. Keempat peran itu adalah the pure scientist; the science arbiter; the issue advocate; the honest broker of policy options.
Di antara peran-peran itu ada stealth issue advocacy bila ilmuwan dibayangi keuntungan pribadi untuk mengegolkan isu tertentu, ada konflik kepentingan. Peran pertama dan kedua berjalan baik, bila nilai suatu isu amat jelas dan derajat ketidakpastiannya amat minim. Ketika ada konflik nilai dan ketidakpastiannya jelas, peran ilmuwan sebagai the issue advocate dan the honest broker terlihat jelas. Peran ketiga berbeda dari peran keempat dalam pilihan solusi yang disodorkan ilmuwan kepada pembuat keputusan. The issue advocate membawakan satu opsi dengan analisisnya, sedangkan the honest broker mengajukan beberapa opsi beserta analisis positif dan negatifnya.
Pertanyaannya, dimanakah posisi ilmuwan kita? Memasuki masa kampanye pilpres, penting bagi ilmuwan (dan capres-cawapres) memperhitungkan politicization of science dalam penilaian program-program yang ditawarkan para calon. Masyarakat berhak mengetahui duduk persoalan isu-isu penting dan menyangkut harkat hidup orang banyak. Ilmuwan pantas menjalankan pilihan empat peran itu demi masyarakat terdidik. Peran pertama (the pure scientist) dan kedua (the science arbiter) tentu penting. Namun, peran ketiga dan terutama keempat amat penting dalam politicization of science. Para calon pemimpin layak menyodorkan siapa ilmuwan terpilih yang menjadi penasihat kepresidenan dan rencana program mereka. Ilmuwan di luar sistem mengkritisinya sehingga politicization of science menemukan opsi terbaik.
Belajar dari Jepang, penasihat sains kepresidenan mengusulkan negara memberikan insentif bagi sektor industri yang berhasil mengurangi emisi karbon tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini sektor industri bersandar pada penelitian dan advancement di bidang emisi karbon (bergantung peran the honest broker). Pertalian ilmuwan dengan politik dan policy tak mungkin dihentikan.
Dari artikel tersebut, mungkin ada beberapa faktor2 utama untuk ilmuwan dalam mengelola tanggung jawab moral, etik dan ilmiah bagi pengabdian untuk kesejahteraan manusia, sbb:
Dari artikel tersebut, mungkin ada beberapa faktor2 utama untuk ilmuwan dalam mengelola tanggung jawab moral, etik dan ilmiah bagi pengabdian untuk kesejahteraan manusia, sbb:
- Pengambil keputusan membutuhkan tenaga ahli untuk menilai aksi apa yang perlu dipilih
- Masyarakat berhak mengetahui duduk persoalan/isu-isu penting dan menyangkut harkat hidup orang banyak
- Ilmuwan pantas menjalankan pilihan empat peran itu (the pure scientist; the science arbiter; the issue advocate; the honest broker of policy options) demi masyarakat terdidik
- Pertalian ilmuwan dengan politik dan policy tak mungkin dihentikan.
Dalam menjalankan peran dan tanggung jawab tersebut, kalangan dan institusi ilmuwan harus dinamis dan berinteraksi dengan positif. Jadi bila ada riset yang menimbulkan gejolak di masyarakat, idealnya ada riset pembanding atau riset terkait keamanan (untuk kasus susu formula ini) atau bahkan riset kohort terkait dampak konsumsi susu formula. Dinamika dan interaksi ini sebagai implementasi peran dan tanggung jawab kalangan/institusi ilmuwan, mampu menjernihkan konteks isu, memberikan informasi yang simetris kepada masyarakat, dan mampu memberi dorongan untuk memanusiakan manusia2 baru (bayi2 yang perlu ASI eksklusif).
Satu hal, kepada kalangan konsumen susu formula atau pemberi susu formula, tetaplah berperilaku hidup bersih dan sehat. Dalam menyiapkan susu formula untuk bayi-bayi manusia, ikuti petunjuk penyiapan, dapat dibaca di wadah susu formula, atau konsultasi dengan dokter atau rajin2lah membuka dan memahami iptek di situs2 internet.
Berikut kutipan dari situs www.pom.go.id, sbb:
Cara Membersihkan dan Sterilisasi Peralatan:
Satu hal, kepada kalangan konsumen susu formula atau pemberi susu formula, tetaplah berperilaku hidup bersih dan sehat. Dalam menyiapkan susu formula untuk bayi-bayi manusia, ikuti petunjuk penyiapan, dapat dibaca di wadah susu formula, atau konsultasi dengan dokter atau rajin2lah membuka dan memahami iptek di situs2 internet.
Berikut kutipan dari situs www.pom.go.id, sbb:
Cara Membersihkan dan Sterilisasi Peralatan:
- Cuci tangan dengan sabun sebelum membersihkan dan mensterilkan peralatan minum bayi
- Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol dan sikat dot) dengan air bersih yang mengalir
- Gunakan sikat botol dan sikat dot untuk membersihkan bagian dalam botol dan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan
- Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir
- Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan
- Bila sterilisasi dengan cara direbus: (a) Botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara di dalam botol, (b) Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5 - 10 menit, dan (c) Panci biarkan tertutup, biarkan botol dan dot di dalamnya sampai segera akan digunakan
- Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot
- Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus: (a) Botol harus disimpan di tempat yang bersih dan tertutup, (b) Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.
Cara Menyiapkan dan Menyajikan Susu Formula:
- Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan
- Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
- Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci/ketel tertutup selama 10 - 15 menit agar suhunya turun menjadi di atas 70 derajat C.
- Tuangkan air tersebut (suhunya di atas 70 derajat C) sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
- Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi. 7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
- Dinginkan segera dengan merendam bagian bawah botol susu di dalam air bersih dingin, sampai suhunya sesuai untuk diminum (dicoba dengan meneteskan susu pada pergelangan tangan, akan terasa agak hangat, tidak panas).
- Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.
Moga semua bermanfaat untuk kehidupan manusia. Amin.
0 komentar:
Poskan Komentar