Jumat, 19 November 2010

Susahnya Merubah Perilaku! Ternyata Kebutuhan Dasar Ini, CONTOHNYA!

Dear All,

Untuk artikel sesuai judul, tanpa banyak nulis dan mikir.....ini ada tulisan yang ringan dan mengena, terutama paragraf yang bewarna merah. TK buat Donny Verdian atas upayanya lewat tulisan berikut. Ini kukopi dari http://donnyverdian.net/2010/10/04/tentang-mencuci-tangan-setelah-kencing.html.

Beberapa hari yang lalu aku ngonangi (menangkap basah -jw) teman yang setelah buang air kecil lalu keluar begitu saja dari toilet tanpa mencuci tangan… dan sejak saat itu stigma ‘bersih’ yang selalu kutempelkan pada dirinya menguap sudah.

Temanku tadi lelaki dan karena aku juga lelaki, bagiku dan seharusnya baginya, sehabis kencing hukumnya adalah ‘wajib’ untuk cuci tangan karena kencing bagi lelaki berarti harus mengeluarkan alat kelamin, memegangnya dan mengarahkannya ke lubang pembuangan lalu atas nama aliran kencing yang tak serabutan, kita harus ‘memegangi’ nya selama proses kencing berjalan. Setelah usai, dengan tangan yang sama kita juga harus memasukkan alat kelamin lagi ke dalam celana. Kita tak pernah tahu apakah aliran air kencing yang adalah kotoran tubuh itu ada yang memercik di jari dan telapak tangan atau tidak kan? Belum lagi kalau mereka yang mengganti celana dalamnya seminggu sekali atau kalau mandi tak pernah membersihkan area kemaluannya… ah, you tau sendiri lah dan bayangkanlah!

Pernahkah pula kalian membayangkan ketika kalian sedang jajan bakso di abang-abang yang berjualan di bawah pohon beringin? Dimana kira-kira kalau ia harus kencing dan bagaimana caranya membersihkan?
“Tuh, muter aja di balik beringin ini lalu kencing aja disitu!” jawab salah seorang abang penjual bakso yang dulu pernah kutanya “Bang, kebelet kencing nih, enaknya dimana ya?”
“Lha cucinya?”
tanyaku
“Cuci apaan?” ujarnya sambil melayaniku, mengambil gumpalan mie dengan kedua tangannya lalu memasukkan ke dalam mangkuk yang hendak dihidangkannya kepadaku… ya, kedua tangannya yang barangkali sejam atau dua jam atau bahkan 15 menit sebelumnya baru dipakai untuk memegang alat kemaluannya untuk kencing di balik beringin itu…


Jadi pentingkah mencuci tangan selepas buang air kecil?
Sekali lagi, bagiku itu penting meski sebenarnya kegiatan itu tak lebih dari sekadar menguatkan ‘peace of mind’ bahwa kita telah melakukan proses pembersihan meski bersih atau tidaknya ya embuh. Sama tho dengan iklan sabun cuci tangan yang sepertinya hingga kapanpun tak kan pernah berani mengklaim mampu membasmi 100% kuman yang menempel di tangan… paling banter 99% lah karena seperti yang kerap diucapkan oleh mereka yang beragama bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan.. ya ndak salah juga!
Setidaknya di sini, di Australia sini, di beberapa toilet umum, di balik pintu keluarnya biasanya ditempel tulisan seperti yang ada di foto di atas.
Jadi, mau tidak mau, demi menyelamatkan muka, mencuci tangan adalah dianjurkan meski itu hanya sekadar menyalakan kran air beberapa detik lalu menaruh tangan di sana dan… “srettt” sudah, tanpa harus membubuhkan sabun di atasnya yang penting toh sudah tidak melanggar aturan yang ada.
Lalu kenapa kira-kira temanku tadi bisa tak melakukan cuci tangan setelah kencing ya?
Kupikir itu terjadi karena ia merasa sendirian di dalam toilet dan tak ada orang lain yang mengintainya padahal ketika ia kencing aku masuk dari pintu toilet yang lainnya lalu sama-sama kencing. Dari kaca kulihat bahwa itu dia, temanku tak salah lagi, namun setelah dia selesai melepas hajat, tak kujumpai ia mampir ke wastafel untuk mencuci tangan melainkan langsung ngeloyor pergi, membuka pintu, keluar dan membiarkan pintu itu tertutup sendiri.

Dalam hal ini, apa mau dikata disiplin kadang memang baru sampai pada tahap bubuhan kosmetik di wajah. Sekadar sesuatu yang patut ditunjukkan di muka orang tapi tak perlu ketika tak ada muka orang di dekatnya. Disiplin, sayangnya, butuh kondisi yang mendukung orang untuk mau-tak-mau mendisiplinkan diri dan kawanku tadi adalah salah satu contohnya bahwa ketika tak ada orang, tak perlulah kita mencuci tangan toh tak ada orang yang melihat.

Ya sudah, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sepeninggal kawanku tadi pergi. Kumasukkan alat kemaluanku ke dalam celana, kutarik ritsleting dan kubenahi letak baju serta mengunci lagi sabuk.

Lalu kamu mencuci tangan atau tidak, Don? Kan tak ada orang lain lagi disitu?
Wah, kalau itu rahasia ilahi, hanya aku dan Tuhan yang tahu :)

MOGA DENGAN ARTIKEL DI ATAS, KAMU-KAMU BISA BERUBAH LEBIH SEHAT.

Salam SEHAT, don_C

0 komentar: