Minggu, 15 Agustus 2010

Pembelajaran dari Artikel Menjadi PEMIMPIN, Kristi P-KOMPAS

Dear Kawans,

Sangat menarik bagiku membaca artikel ini. Sila klik judul untuk membaca artikel Menjadi Pemimpin oleh Psikolog Kristi Poerwandari (KP) di KOMPAS. KP membagi artikel dalam 3 sub judul, yaitu 1) Kelangkaan pemimpin, 2) Pemimpin yang amanah, dan 3) Memimpin diri sendiri.

Aku jadi ingat tulisanku tentang Tindakan PONG di Gedung DPR, tepatnya Kekuasaan dan Amanah, lalu Peradaban SEBENAR Indonesia. Termasuk juga tulisan2 ku sebelum ini. Walaupun kusadari pendalaman dan pemahamanku terkait isu-isu dalam tulisan2 sendiri ini masih perlu diperkaya dan ditingkatkan.

Mari kembali ke artikel KP. Kalimat yang berkesan dalam artikel KP dari sub judul 1, menurutku pribadi adalah Pembelajaran konteks kita: jika bicara soal kekuasaan, perilaku "berkuasa" atau "menuntut kekuasaan", tampaknya Indonesia sangat berkelebihan pemimpin. Kalimat yang berkesan dalam artikel KP dari sub judul 2, menurutku pribadi adalah yah sub judul itu sendiri. Kalimat yang berkesan dalam artikel KP dari sub judul 3, menurutku pribadi adalah Agar kita-apalagi yang merasa berpendidikan dan ada di kelompok kelas menengah-tidak menambahi persoalan bangsa dengan hanya sibuk mengeluh dan menuntut, mungkin kita perlu selalu ingat untuk bicara soal pemimpin ini tidak saja mengenai orang lain, tetapi juga mengenai diri sendiri. Juga harapan KP, yaitu Semoga kita tetap dapat berpikir positif, bertindak positif, dan menjadi pemimpin yang amanah bagi diri sendiri dan dalam lingkup "kekuasaan" yang dititipkan pada kita.

Pembelajaran keseluruhan dari artikel ini, yang dapat kuresapi adalah sbb:
1. Benar kata2 mutiara dari peradaban awal bahwa manusia yang manusiawi adalah manusia yang mampu melampaui diri sendiri
2. Kemampuan memahami diri sendiri adalah kekuatan, dan kemampuan memahami diri orang lain adalah kebijaksanaan
3. Sangat sedikit atau tipis budaya malu dan keberanian mengaku salah. Ambil contoh kesalahan bicara beberapa petinggi negara/publik yang notabene menjadi pimpinan dan pemimpin
4. Integritas, ini adalah salah satu nilai hakiki dalam kehidupan manusia, khususnya kepemimpinan. Jadi tidak hanya bicara tapi perilaku konsisten
5. Kaum cendekiawan atau ilmuwan tetap berproduksi untuk mendorong kehidupan yang benar. Produksi yah, menulis, bicara, bertindak, berbuat, bekerja.... Jadi kalo ada yang mengkritik, yah si pakar/ahli/Dr/profesi itu/ini hanya mengeluh saja, hanya mengkritik saja...yah tidak apa2, bila si pakar/ahli/Dr itu/ini berperilaku untuk mendorong kehidupan yang benar dan kelakuannya mencerminkan ilmu dan pengetahuan yang diemban/dikembangkannya
6. Budaya kolektif untuk kepemimpinan, yang pada dasarnya bahwa perjalanan pemimpin dan orang/yang dipimpin tidak bisa tidak harus saling melengkapi. Bahasa Indonesianya adalah dari, untuk dan oleh.

Ada 2 hal yang dapat kugali dari konteks tulisan ini, yaitu:
1. Banyaknya masalah dan pembuat masalah di Indonesia, apakah mungkin ada hubungan dengan ilmu pengetahuan dan budaya (IPB) yang lagi dominan di Dunia Internasional dan Indonesia khususnya? Ada seorang filsuf Indonesia yang mempelajari hakikat kedua IPB ini. IPB Barat tegas atau cenderung menumbuhkan spesialisasi, akhirnya terkenal dengan ilmu tentang melihat atau menilai gajah. Namun, IPB Timur konsisten dengan keholistikan dan keparipurnaan. Sila mencermati sendiri, terutama terhadap 3 arus utama pembangunan manusia Ekonomi (efek dan dampak krisis multidimensi terhadap UKM), Pendidikan (tidak konsisten budaya, kurikulum dan sistem pendidikan) dan Kesehatan (jaminan negara terhadap kesehatan rakyat dan penduduk).

2. Dalam kasus Indonesia, kepemimpinan menghadapi ANCAMAN, salah satu adalah pelemahan struktural dan TANTANGAN, yaitu intervensi lingkungan/komunitas sangat kuat. Melihat artikel KP, ada contoh tantangan, yaitu kalimat Saat saya bertanya tentang "memimpin diri sendiri", seorang bawahan saya menjawab "menjadi pemimpin bagi diri sendiri sangat sulit mengingat kebiasaan kita sebagai anak buah yang bekerja atas perintah atasan dan kadang hanya bekerja (sungguh-sungguh) jika ada atasan (agar dinilai baik)".

Bagaimana dengan ancaman? Ini dapat langsung dilihat contohnya dalam kehidupan ipoleksosbudhankam Indonesia, bagaimana upaya-upaya langsung dan tidak langsung, sadar dan tidak sadar, menimbulkan pelemahan dalam satu atau beberapa bidang kehidupan Indonesia (pemberantasan KKN, kebebasan beragama, kebebasan berserikat, semangat kreatif dan inovasi, dll).

Bagaimana ancaman di lingkungan lokal? Haaaa...kalo ini aku ingat, dulu, saat masih menjadi PNS yunior. Ada kalimat PNS senior dan notabene diamanahkan sebagai pimpinan, tidak tahu sungguh2 atau bukan diucapkan, saya ini PNS bekerja ya tergantung perintah, kalo kata atasan harus begitu/begini, yah harus bekerja seperti itu/ini? Nahhhh, sila cerna sendiri, apakah dan bagaimanakah semangat kreatif dan inovasi dan profesional bisa muncul dari PNS seperti ini. Ancaman lain adalah, mengikis budaya KKN, sangat sulit kawans, bukan berarti aku pesimis, aku tetap dan masih optimis. Apalagi studi2 perilaku dan humaniora dan omongan ahli/pakar mendukung bahwa tingkat kesejahteraan berhubungan lurus dengan kinerja. Namun, tidak ada yang menjamin tingkat kesejahteraan berhubungan terbalik dengan KKN. Hehehehe...tau sendirilah...

Satu lagi kawans, saking berkelebihannya pemimpin seperti kata KP, dan akupun dapat melihat di lingkunganku, seringnya atau dominannya perilaku menilai dahulu bahwa orang ini/itu, budaya ini/budaya itu, lingkungan ini/itu sudah salah dan harus diperbaiki. Lho, bagaimana mau jadi pemimpin yang amanah bila pendekatan awal sudah begitu. Kata2 dalam sehari2 adalah "lha, ini orang baru, belum kenal dah sok tau!". Tentu aja, muncul oposan2 terhadap orang baru itu.

Demikianlah....Salam SEHAT.

0 komentar: