Dear Pembaca yang Budiman,
Sesuai penjelasan blog ini, Sehat adalah meliputi integrasi dari elemen raga, emosi, mental, sosial dan rohani. Bila kelima elemen tersebut SEHAT, berarti BAHAGIA lah si Manusia.
Merujuk pada judul tulisan, terdapat kaitan dari pengelolaan elemen-elemen dari upaya-upaya kesehatan, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilatatif. Apakah elemen tersebut merupakan suatu tahapan atau integrasi atau holistik atau simultan atau berkesinambungan? Tentu, pasti dan harus, sesuai definisi di atas adalah sesuatu yang terintegrasi, berkesinambungan dan holistik. Karena pengalaman menunjukkan bahwa Sehat tidak bisa dicapai dengan upaya yang sendiri-sendiri.
Pada masa sekarang, sudah diketahui dan dipahami tentang upaya-upaya kesehatan yang health dan beyond health. Artinya, semua harus berpartisipasi; pelaku, sasaran, pemangku kepentingan, ilmu kesehatan, ilmu lain, dan seni.
Sampai sekarang, masih disoroti mengenai Air Susu Ibu (ASI) dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). ASI dari ibu yang sehat/bahagia sudah diyakini mengandung nilai-nilai yang mumpuni untuk kebutuhan dan perkembangan manusia pada periode awal hidup s/d tumbuh kembang. Selain memberikan nilai-nilai untuk perkembangan kecerdasan intelektual, juga kecerdasan emosional dan rohani. Yang penting ibu sehat dan bahagia, yang tentunya hidup dalam keluarga dan masyarakat yang sehat dan bahagia pula.
Melihat sisi lain upaya-upaya kesehatan, memang sudah ada pergeseran paradigma, dari yang semula fokus pada pengobatan penyakit, sekarang bergeser pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang tetap terintegrasi dengan kuratif dan rehabilitatif.
Satu hal, yang terlupakan atau mungkin tidak menjadi perhatian serius adalah subyek yang dihadapi adalah manusia. Sudah selayaknya, manusia didekati/diintervensi dengan upaya-upaya yang tetap memelihara dan meningkatkan nilai-nilai, harkat dan martabat manusia. Jangan fokus pada promotif dan preventif yang mengedepankan peningkatan jumlah dana, fasilitas untuk kesehatan. Dikaitkan dengan ASI dan IMD, masih terjadi di satu sisi dana dan fasilitas kesehatan diperbaiki dan ditingkatkan, namun di sisi lain pihak pabrikan susu formula masih gencar mempromosikan nilai-nilai tambah dari susu formula, bahkan sampai membangun kerjasama dengan unit layanan dan tenaga kesehatan. Apa yang sudah dan sedang terjadi ini? Berarti ada sesuatu yang dilupakan.
Bila serius dengan Paradigma SEHAT, serius jugalah memelihara dan meningkatkan nilai-nilai, harkat dan martabat manusia. Perlakukan manusia sebagai aset. Contoh di suatu negara di Eropa, ASI dan IMD sangat dihargai bahkan diberi insentif. Hal-hal yang mempromosikan susu formula atau pengganti ASI DILARANG! Inilah perilaku negara dan bangsa yang benar, benar-benar, serius dan komit untuk memelihara dan meningkatkan manusia sebagai asetnya.
Kesimpulannya, upaya-upaya kesehatan harus berangkat dari prinsip yang mengedepankan manusia sebagai aset bangsa dan negara, bukan sebagai subyek antara dari subyek utama dana dan fasilitas. Ya, ini mungkin adalah suatu ketidaksengajaan hingga harus disadari pada akhirnya.
Jadi sebelum terlambat, ayo ramai-ramai promosikan ASI dan IMD dan cegah promosi susu formula dan efek sampingnya.
Salam SEHAT.
0 komentar:
Poskan Komentar