Dear Pembaca Budiman,
Sungguh suatu KARUNIA, bila kita sebagai manusia dapat memberikan karya dan cipta untuk kesejahteraan bumi dan segala mahluk hidup yang menghuni bumi. Ini adalah bentuk tangung jawab sebagai Pengelola bumi, yang diberikan ALLAH kepada Manusia.
Semua karya dan cipta, harus dilakukan dengan Kesungguhan, Ketekunan, Hati Bergairah dan Tanpa Pamrih. Nilai2 dalam karya dan cipta ini akan memberi efek, dampak dan manfaat positif bagi penggunaan produk karya dan cipta manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1) KARYA memiliki arti: hasil perbuatan/pekerjaan/profesi. 2) CIPTA memiliki arti: kemampuan pikiran kreatif untuk mengadakan sesuatu yang baru.
Sedangkan, pengertian terkait nilai2 untuk karya dan cipta, yaitu: 1) KESUNGGUHAN, memiliki arti: hal (perbuatan) sungguh-sungguh; ketulusan. Jadi berkarya dan mencipta dengan kesungguhan adalah bekerja secara tulus untuk suatu karya dan cipta, bukan ada maksud lain. 2) KETEKUNAN, memiliki arti: bekerja secara keras dan tulus. Jadi karya dan cipta dengan ketekunan adalah bekerja secara keras dan tulus untuk suatu karya dan cipta, bukan sekedar bekerja. 3) KEGAIRAHAN HATI, memiliki arti: bekerja dengan hasrat, gembira, dan semangat. Jadi karya dan cipta dengan hati bergairah adalah bekerja dengan perilaku positif. 4) TANPA PAMRIH, memiliki arti: bekerja tanpa memiliki keinginan untuk mencapai kepentingan/keinginan/keuntungan khusus untuk tujuan pribadi.
Keempat nilai2 tersebut, saat ini, sangat jarang/sulit muncul dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di NKRI tercinta. Yang muncul adalah kepentingan kelompok bahkan pribadi. Tengoklah pada kasus KORUPSI, semua diawali dengan semangat positif dan memberi harapan pada bangsa dan negara, namun pada akhirnya terbentur pada kepentingan kelompok/pribadi, bahkan pelanggengan kekuasaan.
Sebagian besar; bila susah membuktikan semua; dilakukan oleh petinggi2 NKRI, apakah mau eksekutif, legistatif, dan yudikatif. Belajar dari pengalaman suksesi dengan paksaan di 1997-1998, terbukti bahwa 4 nilai2 tadi bisa berjalan dengan paksaan rakyat dan bangsa. Contoh lain, adalah Facebookers untuk mendukung pimpinan KPK dalam proses kriminalisasi KPK, nyatanya berhasil. Terlepas dari kelanjutan tambahan atau penyimpangan setelah karya dan cipta terwujud, ada yang jadi anggota eksekutif/legislatif/yudikatif.
Namun, dalam proses kehidupan NKRI, sesuai dengan julukan bahwa NKRI memiliki daya kreativitas yang luar biasa tinggi, bermunculan pula upaya2 dengan mengusung keempat nilai untuk pencapaian kepentingan kelompok/pribadi. Tidak ada esensi masyarakat luas/kepentingan khalayak luas di situ.
Berarti, bolehlah dibuatkan sebuah simpulan, bahwa Kesungguhan, Ketekunan, Kegairahan Hati, dan Tanpa Pamrih merupakan satu energi untuk menghasilkan KARYA dan CIPTA bagi kesejahteraan bumi dan isinya. Energi utama yang tidak boleh dilupakan adalah KARUNIA ALLAH. Karena belajar dari proses NKRI, walopun mem-bawa2 nama rakyat (yang notabene masih tak jelas RAKYAT mana?, siapa?), tidak berhasil upaya2 tsb karena tidak membawa kepentingan untuk kesejahteraan khalayak luas.
So, Pembaca yang akan, sedang, telah memberikan karya dan cipta, tetap semangat dan selamat bekerja dan memperkuat iman kepada ALLAH yang Maha Pemurah.
0 komentar:
Poskan Komentar