Dear Pembaca,
Kelemahan adalah potensi kekuatan yang belum diketahui manfaatnya. Mantabs lah bahasa positif dari Encik Mario Teguh. Apa kaitan kata2 mutiara tersebut dengan konsteks tulisan ini? Tentu menjadi pertanyaan.
Mencermati peristiwa2 sosial dan budaya saat ini di NKRI tercinta, tentu dapat dilihat bahwa mental pengemis sedang berhamburan keluar dan masuk dalam sendi2 kehidupan bernegara dan berbangsa. Tengoklah di level bernegara yang paling tinggi, masih ada "minta2" jabatan; yang notabene adalah sebuah amanah. Dalam level pemerintahan masih ada deg2an menunggu panggilan telepon dari pejabat di lingkaran kepresidenan. Apalagi dalam level birokrasi layanan publik. Sudah melenceng, orang melayani kok malah minta atau tawar-menawar jabatan untuk melayani publik. Berarti dari awal motif bekerja sebagai abdi negara sudah salah, bukan mengemban amanah namun mengelola uang untuk menjalankan amanah.
Lebih miris lagi, melihat keseharian proses sosial budaya di masyarakat atau komunitas. Ambil contoh di jalanan, fisik dan mental SEHAT, namun tidak ada motivasi dan etos kerja positif, malah mengemis. Lain lagi komunitas di kereta api. Apakah Pembaca pernah mengalami situasi seperti ini. Suatu hari, beberapa saat sebelum memasuki stasiun, bapak X ditegur dengan ngedumel oleh pasangan suami isteri (isteri dalam kondisi hamil) karena t4 duduk yang ditinggalkan diisi oleh orang lain (bapak Y) yang lebih cepat bergerak dan tidak peduli. Alkisah si isteri tidak mendapat t4 duduk di kereta api.
Apa yang terjadi dalam komunitas tersebut. Dapat diidentifikasi sbb:
1. Komunikasi sosial kemasyarakatan tidak berjalan sesuai nilai2 kekeluargaan dan toleransi (perempuan yang hamil tidak mendapat prioritas untuk duduk di bangku KA dan tidak ada kepedulian sosial dari bapak X dan bapak Y terhadap perempuan hamil)
2. Anggota komunitas yang lain tidak empati kepada perempuan hamil dan tidak mengambil tindakan berupa sanksi sosial kepada bapak X dan Y (dan oknum2 seperilaku)
3. Suami si perempuan hamil tidak berperilaku sebagai suami siaga. Beliau seharusnya dapat meminta/menanyakan kesediaan bapak X dan bapak Y, dengan sopan, agar berkenan memberikan bangku pada isterinya yang sedang hamil. Bukan malah ngedumel (perilaku alternatif negatif akibat kekalahan harga diri).
Itulah sekelumit adegan2 yang rumit dan tidak masuk akal dari kehidupan masyarakat yang bermartabat dan menghargai nilai2 kemanusiaan.
Adakah Pembaca yang, terutama penggemar artikel/tabloid keluarga, membaca proses kehidupan keluarga dari selebritis2 dan tokoh2 di negara ini. Adakah yang memperhatikan bagaimana mereka/keluarga mereka melatih anggota untuk bekerja/berupaya bila menginginkan sesuatu untuk dimiliki/dikonsumsi? Itulah nilai2 yang perlu dikenalkan, diajarkan dan ditanamkan sejak dini dalam setiap diri dan jiwa anak bangsa ini?
Bagaimana mental pengemis, ngedumel, masa bodoh, demanusiawi, begitu menjamurnya saat ini dalam kehidupan di NKRI?
Sebenarnya Pembaca, membuat tulisan ini sangat susah, mau pake sudut pandang ilmu apapun. Coba nilai, perilaku2 negatif tadi terjadi bila terkait dengan kepentingan individu, namun bila terkait kepentingan komunitas yang banyak dan lebih luas namun sesaat, bisa muncul perilaku2 positif dari si pelaku yang sama. Idealnya kan untuk jangka panjang lebih afdol. Apakah sudah terjadi degradasi pengetahuan di kalangan sebagian masyarakat? Hanya mementingkan kehidupan jangka pendek....akibat beban dan tantangan hidup yang sudah melebihi dosis.
Ingatkah pernah ada "tuduhan" bahwa orang Indonesia adalah insinyur sejati. Rekayasa apa yang anda butuhkan? Sila hubungi Indonesia di nomor +62. Ahhhh, jangan2 sekarang ini lagi eranya rekayasa negatif ato untuk tujuan negatif ya.
Marilah sama2 kita menilai, memahami dan mencari solusi positif untuk kehidupan rekayasa di NKRI ini agar lebih baik dan benar.
Salam Rekayasa SEHAT, don_C
0 komentar:
Poskan Komentar