Dear Pembaca yang Budiman,
Emosi adalah kata yang paling banyak terimplementasikan dalam proses NKRI sekarang ini. Tidak hanya di tingkat eksekutif, yudikatif dan legislatif. Sudah merambah s/d tingkat masyarakat, keluarga dan pribadi.
Menurut artikel dalam situs: http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/psikologi-abnormal/pengertian-emosi, emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya. Disebutkan juga bahwa emosi harus dikuasai dengan kecerdasan sehingga pemikiran, nilai dan kelangsungan hidup kita berjalan dengan benar. Intinya harus ada keselarasan emosi dan cara mengekspresikannya.
Manusia adalah makhluk sosial, artinya dia sebagai individu tidak dapat hidup sendiri. Harus ada interaksi dengan manusia lain, makhluk hidup lain dan Penciptanya. Interaksi dapat dalam wujud pertemanan, kelompok, wilayah, atau negara; agama atau kepercayaan dan lainnya yang memungkinkan berinteraksinya 2 atau lebih manusia, makhluk hidup lain dan Penciptanya.
Manusia sebagai makhluk sosial yang diberi tugas sebagai Pengelola Bumi oleh Penciptanya, diberi tanggung jawab untuk mengimplementasikan pengetahuan, sikap dan tindakannya (Perilaku) untuk kesejahteraan bumi. Jadi mulai dari perilaku terhadap diri sendiri, orang lain, mahkluk lain dan terhadap Penciptanya. Ajaran bahwa Apa Yang Kau Inginkan Orang Lain Perbuat Bagimu, Perbuatlah Seperti Itu Kepada Orang Lain, tentu sedikit banyak dapat menggambarkan perilaku yang idealnya manusia perbuat.
Balas Dendam, terjadi karena akumulasi perilaku negatif orang lain yang diterima seseorang sudah tidak dapat ditoleransi lagi.
Banyaknya perilaku negatif dalam proses NKRI sekarang ini, KKN, pembunuhan, penipuan, fitnah, dan contoh perilaku kriminal lain, bukan serta merta terjadi begitu saja atau karena kepentingan sesaat/tertentu dari individu atau kelompok.
Emosi karena melihat perilaku pejabat negara yang KKN sehingga akhirnya terjadi pembiaran dan membudayanya KKN yang pada akhirnya dianggap sudah biasa (uang rokok, fee, PNS punya rumah mewah/mobil dan tidak sesuai dengan pendapatan, dll). Apa yang salah? Bukan emosinya yang salah, karena emosi adalah manusiawi namun cara mengimplementasikannya yang salah berikut faktor2 pendorong dan determinannya. Bila seseorang/banyak orang (penduduk) tidak bisa mengimplementasikan emosi dengan benar, negara dalam hal ini direpresentasikan oleh pengelola negara wajib dan harus memberi contoh.
Kasus2 yang menyayat hati dan merusak sendi2 kehidupan bangsa dan negara saat ini, terjadi dan dikelola dengan tidak benar dan "gentle". Tidak ada contoh dan perilaku dari pengelola negara untuk memberi hukuman dan penghargaan terhadap pihak2 yang terlibat. Malah dibiarkan berlarut (bentuk tim baru padahal sudah ada lembaga yang bertugas/pemborosan, munculkan isu besar yang baru, beri pernyataan yang bertolak belakang dan kontraproduktif, dll).
Belajar dari pengalaman/sejarah, tahun 1955-an, NKRI yang masih bayi berproses dengan benar walaupun ada sedikit banyak perilaku yang pasti terjadi. Jurang kesenjangan antar individu tidak seperti sekarang ini, baik perilaku dan kesusahan, semua bercita2 sama, mengisi kemerdekaan dengan perjuangan bersama.
Kebersamaan saat itu, sangat mesra, tegas dan jelas, mewarnai segala sendi dan jiwa negara, bangsa dan rakyat NKRI. Namun saat ini, kebersamaan ada bila ada kepentingan dan tidak bisa mewarnai semua lapisan.
Nah, bila ingin memperbaiki proses dalam NKRI ini, marilah mulai dari pengelolaan emosi dalam diri sendiri. Seperti motto sebuah NGO, 1 dollar 1 people, bila ada 1 juta orang yang mendonasikan dengan ikhlas, terciptalah sebuah modal, force, hasil yang positif untuk perubahan lebih baik.
Selamat berubah dan menjadi lebih CERDAS. Salam SEHAT.
0 komentar:
Poskan Komentar