Selasa, 06 Oktober 2009

SEHAT = BAHAGIA oleh Multidisiplin

Salam SEHAT,

Pasti semua Pembaca pernah mengalami dan/atau bahkan menemukan suatu permasalahan yang tidak tuntas diintervensi. Pernahkan terpikir, siapa dan apa yang menemukan masalah, siapa dan apa yang membedah masalah, siapa dan apa yang membuat alternatif penyelesaian masalah, siapa dan apa yang mengintervensi masalah?

Bila dipahami dengan benar, pasti akan menemukan bahwa masalah tersebut terjadi akibat lebih dari satu input penyebab. Contoh masalah kemiskinan, apakah bisa kita katakan hanya karena status ekonomi yang jelek, atau status pendidikan yang jelek, atau status kesehatan yang jelek, atau pengetahuan hukum yang dangkal, atau pengetahuan budaya yang salah? Tentu tidak.

Kesehatan dan Humaniora

Secara sederhana, arti humaniora menurut Penulis adalah segala ilmu dan pengetahuan yang berakibat langsung dan tidak langsung bagi kemanusiaan dan kehidupan manusia. Pernahkah mendengar "ego" bahwa pembeda kesehatan dengan substansi lain adalah kemanusiaan? Ini tentu pernyataan yang cocok namun tidak benar. Berdasarkan pengertian di awal, berarti bukan kesehatan saja. Sebagai contoh, ilmu-ilmu perilaku (hipnotis, psikologi, psikiater, kharisma, dll) bisa menyebabkan perubahan perilaku dari manusia, dari baik jadi jahat, atau dari jahat jadi baik. Ini adalah contoh dengan akibat langsung bahkan cepat. Contoh dengan akibat tidak langsung adalah ilmu-ilmu terkait pemberdayaan masyarakat, budaya lokal, etika, hukum, politik, dll. Hasil dari penyelenggaraan ilmu2 tsb adalah tidak serta-merta terjadi, butuh proses pengendapan, pemahaman, perubahan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Terkait dengan akan terbentuknya pemerintahan nasional baru di NKRI, sudah ada wacana dan diskusi terkait efisiensi kabinet/pemerintahan. Pada masa2 pemerintahan sebelumnya juga sudah pernah muncul namun hilang ditelan isu2, kepentingan2, permasalahan2 mendesak dan yang direkayasa mendesak. Salah satu modal perubahan perilaku adalah adanya contoh yang benar (sesuai dengan tujuan perubahan yang benar). Umumnya contoh yang paling berhasil dengan signifikan adalah dari kalangan atas (pemimpin, bos, tokoh, panutan). Sangat perlu terobosan dan langkah2 perubahan yang progresif dan dinamis untuk keberhasilan menjadi benar.

Kembali ke muatan utama tulisan ini, SEHAT = BAHAGIA. Sangat penting ada perubahan perilaku dari pelaku2 utama pembangunan kesehatan dalam memandang tujuan akhir dari sehat. Apakah hanya sekedar tidak sakit, atau s/d sehat jasmani dan rohani, atau s/d produktif, atau bahkan s/d individu dan keluarga yang mampu menghasilkan keturunan yang sehat, atau s/d ada definisi tujuan akhir yang lebih "mengena".

Dulu ada dualisme ilmu pengetahuan, IPA dan IPS. Masing2, pada umumnya, berjalan sendiri dan berkembang sendiri. Sangat sedikit yang mampu menyadari bahwa sebenarnya ilmu2 tersebut adalah SATU. Satu SUMBER, satu tujuan benar, satu pengelola, satu target. Allah dan manusia. Pencipta dan ciptaanNYA. Pemilik dan milikNYA. Pengasuh dan asuhanNYA.

Jadi bila memahami esensi ilmu pengetahuan, selayaknya manusia tidak egois. Kita mengenal IPC, namun hanya dalam UMPTN. Kenapa tidak diaplikasikan dalam realita? Sepantasnyalah sehat dikelola oleh semua elemen, agar menjadi milik bersama yang hakiki. Apakah ini perlu Depkes atau bahkan Depkes tidak perlu berdiri sendiri, namun di setiap kementerian/LPND ada fungsi kesehatan? Hahaha.....daripada paradigma pembangunan berwawasan kesehatan sulit diterapkan, lebih baik fungsi kesehatan melekat langsung pada setiap lembaga.

Bila mengambil realita iptek di lingkungan global, yang paling ngetrend dan sering mendapat apresiasi adalah substansi publikasi yang spesialis bahkan subspesialis. Contoh: gen, reaksi dari unsur X, manfaat kandungan Y, dll. Apakah itu semua bisa langsung bermanfaat dalam kehidupan, TIDAK, tentu butuh pengembangan untuk penerapan, dan itu butuh dukungan multidisiplin. Lihatlah kloning atau terapi sel punca yang sampai sekarang belum manusiawi.

Akhirnya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, karena ini adalah suatu keniscayaan, kembali pada esensi ilmu pengetahuan yang satu hakiki adalah kunci kalangsungan hidup yang SEHAT dan BAHAGIA.

Salam SEHAT.

0 komentar: