Selasa, 30 Juni 2009

Kemampuan Praktisi Kesmas

Salam SEHAT,

Dear semua Praktisi Kesmas yang lagi berkarya.

Memasuki periode Pemilu Capres dan Cawapres RI 2009-2014 sudah banyak bertebaran debat, diskusi dan dialog terkait visi, misi, strategi, dan program pasangan calon tsb. Mulai dari bidang kesejahteraan, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan polhan. Tidak ketinggalan bidang kesehatan.

Pemahaman dasar yang Penulis pegang adalah sbb:
1. Kesehatan adalah sehat fisik, mental, jiwa, sosial dan rohani sehingga seseorg mampu berkarya sebagai manusia yang manusiawi
2. Kesehatan secara institusi adalah sinergitas dan kemampuan dari organisasi, SDM dan sistem dalam melaksanakan tugas, fungsi dan peran
3. Kesehatan masyarakat adalah aplikasi ilmu dan seni yang multi/lintas disiplin/aspek/bidang untuk mencapai derajat kesmas maksimal
4. Ketiga pemahaman di atas idealnya diatur dalam konstitusi atau undang2, dan penjabaran lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan di bawah.

Banyak sudah materi2 kesuksesan yang diklaim oleh incumbent dan pendukungnya dalam bidang kesehatan. Banyak pula materi kesalahan/kegagalan bidang kesehatan yang dipromosikan oleh pesaing/kompetitor.

Mencermati realita bidang kesehatan dewasa ini dalam NKRI, tentu masih banyak dan ada substansi yang lebih mendasar yang harus segera dibenahi. Bukan hanya meningkatkan materi yang sukses tadi atau promosi kegagalan tadi.

Sebagai praktisi kesmas, Penulis menilai sudah selayaknya seorang Menkes memiliki kemampuan dan kapasitas dalam mengaplikasikan ilmu dan seni untuk mencapai derajat kesmas maksimal tadi. Ada 2 upaya berdasarkan ruang lingkup untuk aplikasi ini, satu internal institusi dan eksternal institusi. Benahi dan tingkatkan manajemen kinerja kesehatan di Kementerian Kesehatan/Pemerintah, dua komunikasikan upaya pembenahan dan peningkatan manajemen kinerja kesehatan di bidang/kementerian lain, pemerintah prov/kab/kota, dan masyarakat luas.

Upaya ini tentu akan menuai konflik, komitmen, dukungan, penolakan. Wajar dalam sebuah dinamika perubahan dan kehidupan sehari2 ada hal2 yang dituai seperti di atas. Yang penting jangan berputus asa, mengeluh, gugup berlebihan, panik berlebihan dan mundur/nyerah.

Melihat realita diskusi, dialog dan debat yang ada, terdapat isu2 seperti alokasi anggaran, sistem kesehatan (sentralisasi atau desentralisasi), kewajiban negara/pemerintah menjamin kesehatan, kesehatan sebagai HAM, dll. Isu2 ini tidak akan habisnya dibahas dan melulu dalam aspek benar dan salah, layak dan tidak layak, seharusnya dan tidak seharusnya sepanjang belum ada komitmen dan kesepahaman dari semua elemen sasaran kesmas. Perlu diingat bukan bidang kesehatan saja (pusat dan daerah), terdapat juga bidang lain al. pekerjaan umum, dalam negeri, pertanian, kelautan, perikanan, lingkungan, pertahanan, perekonomian, dll. Tentu lebih indah bila suatu keberhasilan dan kegagalan dalam kesehatan diklaim sebagai milik bersama, ada komitmen bersama untuk meningkatkan dan memperbaiki dalam masa mendatang. Daripada dikata2-in .."itulah ngerjain sendiri sih", ..."tidak mau koordinasi sih",...dll.

Kata2 itu suatu yang lumrah dan manusiawi (negatif) itulah dinamika. Nah, sekarang bagaimana dibawa negara dan bangsa ini. Kesehatan adalah lokomotif pembangunan bangsa dan negara. Bila menjadi visi s/d kegiatan bersama tentu dapat mencapai kebahagiaan bagi bangsa dan negara. SEHAT = BAHAGIA.

Salam SEHAT

0 komentar: