Habis nonton Deep Blue Sea, terkesan dengan ucapan terakhir dari aktris yang akhirnya gugur diterkam taring si hiu, yaitu: "walaupun dia binatang cerdas tapi dia tetap seekor binatang". Si aktris melukai telapak tangan dan menceburkan diri ke laut untuk mencegah si hiu keluar dari pagar pembatas. Alkisah si hiu mencium bau darah dan berbalik mencari sumber bau nikmat tersebut. Benar........sifat asal sebagai binatang pemangsa tetap melekat walaupun si hiu sudah diintervensi sel-sel kehidupannya agar hiu tsb menjadi senjata terjanggih di bawah dan dalam air laut.
Karakter atau sifat asal/melekat ada pada setiap insan. Dapat dilihat, misalnya pada pemain sepakbola, apakah dia berkarakter sebagai striker, gelandang, bek atau kiper. Atau pembawaan seseorang, apakah pemalu, ramah, rendah hati, keras, kasar, dll.
Karakter dan Perilaku kadang kala disamakan, padahal hakekat keduanya berbeda, cara merawat-melakoni. Karakter bila tidak diakomodasikan dalam suatu aktivitas, misal karakter striker ditugaskan (dipaksakan) menjadi bek, tentu akan menggangu tim dan membuat si pemilik karakter tidak nyaman. Perilaku bila tidak diakomodasikan dengan benar (perilaku yang tidak sehat atau tidak benar tidak diperbaiki) tentu membuat lingkungan menjadi rusak dan si pemilik perilaku bisa merasa atau tidak merasa terganggu.
Intinya implementasi aktivitas yang tidak sesuai dengan karakter, karena tugas, paksaan atau lainnya akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi si pemilik karakter. Lain hal dengan perilaku, efek terhadap si pemilik perilaku dari produk implementasi perilaku yang salah atau benar, bisa beragam tergantung karakter si pemilik perilaku.
Masuk ke dalam substansi SEHAT. Apakah asumsi bahwa perbaikan perilaku sehat seseorang tergantung karakternya, atau keberhasilan pendidikan kesehatan masyarakat (PKM) tergantung karakter individu, signifikan?
Bila melihat realitas, orang sudah diberitahu kalo kebersihan diri (higiene) penting, setelah tahu efek dan dampak negatif tidak higiene, dia menyikapi positif (setuju) perlu higiene, tapi dalam tindakan ada beberapa orang yang tidak bertindak atau mempraktekkan secara sinkron (pengetahuan dan sikap benar tapi tindakan salah). Analog dengan substansi lain, pegawai sudah diberi fasilitas cukup atau mewah dan diberi pengetahuan ttg korupsi dan menjaga diri tapi tetap ada juga pegawai yang korupsi.
Jadi kembalilah mendalami falsafah ilmu kesmas (IKM) sebagai ilmu dan seni. Perencanaan PKM tidak melulu soal dana, sarana, pelaksana. Idealnya Pengelola PKM memiliki ilmu dan seni untuk mendalami karakter dan juga perilaku sasaran. Jangan perilaku saja, seperti kondisi PKM selama ini dengan realita di masyarakat terkait kesehatan (higiene, sanitasi, dll). Pengelolaan PKM harus melibatkan banyak disiplin (ilmu dan seni), karena sehat adalah HAM (hak milik setiap insan).
Jadi lagi, bila menemukan kendala dengan karakter negatif, hadapi dengan kreatif dan inovatif positif. Jangan hanya bisa menampilkan hasil studi atau riset bahwa perilaku sehat di masyarakat A, B, C, D = buruk dan dengan contoh2 perilaku buruknya.
Salam SEHAT
0 komentar:
Poskan Komentar