Minggu, 04 Maret 2012

KEPEDULIAN: keberterimaan dan pembelajaran

Dear Pembelajar,

Berkarya adalah proses ide, menggunakan semua daya manusia, menjadi barang/jasa yang bermanfaat bagi pengguna. Sederhana kan! Sudah berapa lama ini, awak diinfeksi nilai2: 1) dilarang mengeluh, 2) bila ada masalah selesaikan sendiri, 3) dilarang protes, dan 4) dilarang menolak. Nilai2 untuk berkarya sebagai pembelajar dan agen perubahan. Berat ya?

Setelah mengalami proses infeksi akut dan kronik, yang saling berganti, timbul tenggelam, awak menyadari, ini adalah nilai2 yang tidak semata-mata muncul, seadanya, namun ada dengan proses yang panjang, mengenali, menggali lebih dalam sisi manusia sebagai mahluk yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia hidup dengan manusia lain, ciptaan lain. Berinteraksi dengan mereka, dalam kelompok atau dalam rantai makanan. Dalam kelompok sesama manusia, ada kepedulian, yang menjadikan manusia itu, sah sebagai manusia. Kepedulian ini muncul karena manusia bisa mengenali dirinya, diri sesamanya, dan ciptaan lainnya. Terutama manusia, paham amanah yang diberikan dari Sang Pencipta.

Selama beberapa tahun ini, awak sering dan akhirnya "terpaku" melihat realita info media TV mengenai penggunaan bahan berbahaya dalam makanan dan minuman. Yang menjadi keterpakuan adalah menyangkut efek kronik atau dampak bagi kesehatan manusia2 generasi penerus di NKRI ini! Emang secara umum, sistem tubuh manusia ada mekanisme mempertahankan, membersihkan diri. Namun, bila terus menerus diserang, diinfeksi dengan bahan2 berbahaya, akhirnya ada masa dimana tubuh dan manusia itu akan lemah dan padam. Bisa dilihat nanti pada materi genetik, bentuk sel, bentuk jaringan, bahkan bentuk yang kasat mata, ada kecacatan. Bisa juga pada IQ, EQ, SQ dan kemampuan alami yang tidak sebagaimana mestinya. 

Realita ini bisa diterima sebagai pembelajaran dari media TV, bahwa hal-hal negatif banyak terjadi di kelompok manusia, apakah itu perilaku, kesadaran, dan ketidaksadaran.

Realita ini, semakin melengkapi kondisi pembiaran penderitaan hidup (kemiskinan, kebodohan, dan korupsi). Semua ini adalah ada di depan mata, di dekat kita, di dalam kita?

Tulisan ini sekedar menggoret sampai di sini, namun marilah kita, melalui daya manusia sesuai kapasitas dan anugerah masing2, memberikan karya terbaik kita dengan kemauan yang tulus dan ikhlas.

Awak yakin, banyak manusia2 NKRI yang masih dan tetap berkarya untuk ini.

Salam Pembuka di Maret 2012


Minggu, 22 Mei 2011

NKRI: apa kabarmu?

Dear Kawans,

Siapakah yang layak menjawab judul artikel ini? Silahkan lah menjawab, tak ada larangan untuk bersuara.

Kalau aku, menjawabnya seperti ini:
A = awalnya berjuang untuk mengisi kemerdakaan, akhirnya walaupun penuh pengorbanan pasti mencapai tujuan NKRI sesuai preambule UUD
B = beradabnya kemanusiaan merupakan salah satu dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, berproses penuh darah dan air mata, akhirnya ada senyuman bagi semua rakyat NKRI
C = cinta tanah air, menjadi perekat perjuangan di awal revolusi fisik kemerdakaan, berproses dengan pernak-pernik negara serikat, wacana federasi, desentralisasi, lepasnya Timtim, pemekaran wilayah, pindahnya anak bangsa berkemampuan unggul (brain drain), akhirnya disadari bahwa NKRI emang RUMAH masa depan
D = demokrasi menjadi cara hidup berbangsa dan bernegara, awalnya demokrasi NKRI, terpimpin, Pancasila, otoriter, liberal, akhirnya emang demokrasi Pancasila yang mewarnai NKRI
E = eitssss...inilah NKRI
F = filterisasi globalisasi untuk memelihara peradaban NKRI akan, sedang, dan terus bergulir penuh dengan intrik dan kepentingan. Akhirnya kebutuhan NKRI lah yang menjadi penjuru
G = Garuda Indonesia menjadi lambang bahwa NKRI bukan label barat, timur, selatan, utara. Bukan pula liberalis, kapitalis, komunis, ateis, sosialis. Kerakyatan lah yang merupakan konsentrasi komitmen seluruh anak bangsa NKRI....sehingga mau bagaimana
H = hak asasi manusia. Hidup, berkarya, berkeyakinan dan berpengharapan selalu menggambarkan manusia NKRI yang sebenar
I = Indonesia bukan endonesia bukan hindia belanda, bukan saudara kecil nipon, bukan antek dan kaki tangan yang lain
J = jagalah kedaulatan NKRI di darat, udara, laut dan dalam bumi
K = kemerdakaan yang hakiki sebagai negara, bangsa dan manusia Indonesia
L = lakukan apa dan bagaimana yang dibutuhkan Indonesia
M = manusiakan rakyat Indonesia
N = nyanyikan Indonesia Raya dalam aliran darahmu, helaan nafasmu, gerak langkahmu dan mimpimu
O = olah NKRI ini, anginnya, airnya, tanahnya, mineralnya, minyaknya, kekayaannya seperti amanah dari anak cucu NKRI
P = pelihara NKRI sesuai pesan pejuang2 kemerdekaan dan penantian anak cucu NKRI
Q = qira2 bukan dasar membangun NKRI, kebersamaan dan kemauan adalah energinya
R = Rahmat TUHAN YANG MAHA adalah pengawal NKRI
S = selalu berdoa dan bersyukur di awal, selama dan di akhir berkarya
T = tidak berperilaku non manusiawi
U = untukmu Indonesiaku adalah mars pembangunan NKRI
V = viva Indonesia adalah doa dan upaya
W = wajah Indonesia adalah keTUHANan, kemanusiaan, kebersamaan, keramahan, kejujuran dan keadilan
X = xtraordinaries (luar biasa) adalah bentuk semangat pembangunan
Y = yang bermanfaat dari, oleh dan untuk NKRI
Z = zaman NKRI selalu ada.

Perlu diingat jumlah dan mutu adalah kondisi pembangunan dan dapat diatur, yang mampu dan mau ditingkatkan adalah input dan proses pembangunan NKRI. Semua butuh komitmen dan kemauan untuk membangun.

Ayo! Mari! Membangunlah Indonesiaku.

Salam SEHAT.

Rabu, 11 Mei 2011

Komunikasi dan Kebijakan Publik

..........@ mode mengelus dada.


Tadi pagi mampir sebentar di SPBU untuk mengisi BBM Premium ke motor. Tiba2 kaget dan ketawa bareng isteri....kenapa? Ada2 aja cara pemerintah buat rakyatnya tambah menangis dan ketawa. Tertulis di mesin pompa premium..."Premium adalah BBM untuk orang tak mampu"......Kunyuk...kampret...bego....Sepanjang jalan kami asyik bercanda dan meledek diri sendiri karena dinilai pemerintah sebagai orang tak mampu.


Jadi ingat, uneg2 teman X saat nebeng mobil teman Y. Si X cerita kalo dia s4 nyampein ke petugas SPBU waktu ngisi premium ke motor.."Mas...stiker itu cabut donk..kita bukan tidak mampu...wong harga berapapun ditetepkan pemerintah, kita tetap beli itu premium....kalo beli di atas premium...kan boros karena spesifikasi motor ini premium...Mas SPBU hanya jawab.."Pak kita hanya menjalanakan tugas..ini dari pemerintah"...Emang kelewatan...tak berani bertanggung jawab pemerintah..asal buat!


Siapa atau apa yang membuat informasi ini. Bagaimana cara pemerintah mengkomunikasikan kebijakan kepada publik?


Kebijakan publik tentang BBM premium diluncurkan karena subsidi BBM > premium dicabut. Kenapa main asal luncur kebijakan yah?....Maksud hati nak nyasar pengguna kendaraan mewah...yang kena "hina" justru rakyat non kendaraan mewah. Komunikasi publik apa yang dipake pemerintah?.....Komunikasi kaca mata kuda....bingung mereka.


Pemerintah memvonis yang beli premium tidak mampu. Lalu indikator orang miskin masih aja sama seperti yang sudah-sudah...ato mau muncul indikator orang tidak mampu....? Plin plan ya pemerintah ini.


Kalo emang tujuan stratejiknya mau menyesuaikan harga BBM dengan harga pasar...yang siapkan dulu dan sinkronkan semua indikator yang sudah ada tentang orang miskin/tak mampu, juga perindustrian kendaraan bermotor terkait spesifikasi BBM, lalu sarana lainnya (penindakan hukum, ketersediaan BBM, dll).


Tapi mungkin yah...semua persiapan di atas tidak bisa dikelola oleh pemerintah..lalu bingung dan main terapkan aja. Kebijakan publik itu bukan hanya aspek materi saja (kuantitas, fisik, implementasi di lapangan, pengawasan)...aspek non material (humaniora/sosial budaya) perlu dipahami. Apa efek dan dampak kata2 orang tidak mampu itu? Data kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS (pemerintah)...boong donk...artinya pemerintah berbohong. Angka kemiskinan lebih banyak dari data BPS...karena BBM premium banyak yang beli..ya iyalah..orang yang sangat miskin mau beli premium untuk apa? makan aja susah, sekolah susah, apalagi naik sepeda motor premium....


Gila....belajar yang benar lah pemerintah dan pakar2nya. Komunikasi dan kebijakan publik kalian...amburadul....


Semoga cepat sadar!!!!!!!


Salam SEHAT dari rakyat yang divonis sebagai golongan tidak mampu!

Minggu, 08 Mei 2011

Apakah agama itu?

Salam Mei 2011,

Dalam suatu perjalanan dengan taksi, aku berdialog dengan rekan terkait tanggung jawab dan keimanan manusia. Semua berangkat dari kesamaan pemahaman bahwa iman seorang manusia adalah tanggung jawab dia dengan Sang Pencipta dia.

Berangkat dari isu-isu teror, keberanian orang memvonis bencana pribadi karena pindah agama/keimanan, dll. Kenapa manusia suka sekali memaksakan kebenaran yang diyakininya sebagai kebenaran tunggal/menurutnya? Apa hak dia sehingga berani memaksa, memvonis, meneror dan menghukum sesama yang beda?

Apakah agama dan iman itu sama? Silahkan merasakan, memahami dan menjawab!

Mari coba kilas balik, baca sejarah peradaban manusia sebelum ada sesuatu yang namanya agama! Apakah manusia saling mempertentangkan seperti sekarang?

Sekarang malah ada aturan terkait agama yang diakui...di satu sisi ini dianggap "cara baik" namun di sisi lain ini adalah melanggar HAM! Apa urusan aturan dengan keimanan manusia dan Sang Penciptanya?

Jadi ingat pesan "carilah kebenaran", "karena ketidaktahuan adalah dosa", "kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri", "kasihilah TUHANmu dengan segenap akal budimu", "persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang kudus". Wah....nurutku inti pesan adalah segala sesuatu yang engkau perbuat (perilaku mu) dasarilah atas sesuatu yang benar/bersih/suci. Beratkan? Setiap saat kita diberi dilema, saat bangun pagi mana yang lebih gampang, berbuat kebaikan atau kejahatan?

Emang banyak sudah manusia yang menjual atau terjual dirinya karena sesuatu yang diyakini kebenarannya karena menyakiti atau menzalimi sesamanya karena keyakinannya itu.

Udah lah....jalani hidup ini dengan berdoa pada Sang Penciptamu, lalukan perilaku yang benar/bersih/suci tadi, sesuai dengan imanmu, lalu berdoalah lagi pada Sang Penciptamu. Amen.

Salam SEHAT

Selasa, 19 April 2011

Hakikat Pembangunan adalah Membangun Manusia

Dear Pembaca yang Budiman,

Wahai anak bangsa Indonesia, pahamkah anda makna lagu Indonesia Raya karya WR Supratman? Ada proses pembangunan ideal di dalam baitnya, yaitu "...bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya...".

Bila melihat motto blog ini "SEHAT rohani, sosial, mental, emosi, dan raga untuk Kebahagiaan dan Keselamatan", mari kita coba kupas dan agak dalamin sisi kehidupan sebagai manusia yang hidup. Manusia adalah mahakarya ciptaan (masterpiece) TUHAN YANG MAHA KUASA. Tidak ada bandingan dan tiruan oleh pihak selain TUHAN YMK. Manusia diciptakan memiliki "harta", yaitu akal, budi, roh, jiwa, emosi dan raga yang saling berhubungan, yang tidak dimiliki oleh, baik hasil ciptaan maupun hasil temuan. Manusia hidup dan menjadi hidup bila mengelola "harta" tsb, seiring memanfaatkan materi yang sudah ada di dalam/di/di atas bumi ini.

Sering mendengar ungkapan2 ini? Aspek material (AM) dan aspek non material (ANM)? Beberapa definisi dari ke2 aspek tersebut, sbb yaitu:
1. AM berupa sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan keduniaan. ANM berupa segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek moral dan agama
2. AM berhubungan dengan kebendaan/materi. ANM berhubungan dengan non kebendaan/materi (al. jiwa, spiritual, rohani, ideologi, nilai, kepercayaan, dll)
3. AM memiliki karakteristik bisa ditemukan/diolah dalam suatu batasan karena sudah ada dan tinggal digunakan. ANM memiliki karakteristik tidak terbatas kualitas dan kuantitas, bisa berubah/berkembang, bila dalam masyarakat/individu merupakan proses kesadaran diri dan eksistensi subyek.

Pembaca dengan sendirinya sudah bisa menilai, bagaimana pembangunan Indonesia Raya ini? Apa sudah sesuai dengan maksud WRS? Membangun jiwa dahulu baru badan? ANM dahulu baru AM? Sisi rohani-spiritual-jiwa-mental dahulu baru fisik/raga?

Sebagai ulasan, pembangunan di masa2 awal proses menuju kemerdekaan sepertinya sudah cocok, berjuang dengan merdeka atau mati. Di sini, merdeka untuk hidup, hidup yang paripurna sebagai manusia. Kalo tidak mendingan mati (tidak dijajah sesama manusia dan dianggap bukan manusia). Beberapa tahun, pembangunan berproses, ada pemberontakan/chaos, dan sekali lagi membuktikan bahwa pembangunan Indonesia Raya sedang benar dilakukan. Pemberontakan/chaos berhasil ditumpas. Juga situasi dan kondisi demokrasi, pergantian parlemen dan pemerintahan tidak mengganggu pembangunan paripurna. Semua bisa berjalan sesuai idealnya suatu pembangunan.

Kacaunya pembangunan yang ideal ini, karena penguasa pembangunan mulai fokus pada materi, mendahulukan aspek duniawi dan mengesampingkan hakikat manusia itu sendiri. Pembangunan adalah perubahan atau perkembangan. Mau tidak mau, yang terkena manusia dan lingkungan, harus beradaptasi dan menjadi lebih benar/baik. Jadi manusia yang harus mengatur pembangunan, bukan diatur oleh pembangunan. Pada masa2 kekacauan tsb, yang dikejar adalah pengakuan materi atas Indonesia (proyek mercusuar, pemusatan pembangunan di pulau Jawa, melupakan pembangunan luar pulau Jawa, bahkan tidak memerdulikan penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan). Utama dari semua itu adalah perilaku korupsi dari penguasa.

Masa sekarang, ada perubahan namun tidak konsisten dan serius dilakukan. Ada visi, misi dan strategi namun implementasi tidak berhasil. Tidak ada kesinambungan dan komitmen antar penguasa di pusat, provinsi dan KK. Banyak kepentingan golongan/pihak yang tidak membantu pembangunan. Korupsi dan dampaknya tetap terjadi dan makin parah. Penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan merajalela. Makin banyak yang kaya materi dan miskin non materi. Angka kriminalitas tinggi, angka kematian manusia juga masih tinggi.

Banyak orang pintar dan cerdas di Indonesia namun apa dampaknya bagi pembangunan. Contoh kecil pembangunan yang "salah". Masa dulu, TK tidak wajib bisa baca dan tulis, sekarang sistem pendidikan membuat stress anak usia sekolah, tawuran pelajar merajalela, penyaring akan perilaku negatif globalisasi tidak bagus di dalam diri anak2 muda Indonesia. Wah....ngeri membayangkan proses negatif ini dan efek bahkan dampak yang bisa terjadi!

So, wahai manusia, apapun peran anda, penguasa kek, politisi kek, birokrat kek, ilmuwan kek, rakyat kek, militer kek, penegak hukum kek, atau apapun kek, jangan ulangi, kembali ke atau mengadopsi perilaku perbudakan, kolonialisme, imperialisme. Jangan bilang itu hanya penjajahan oleh bangsa/negara lain. Ingat ini jaman maju, manusia diberi "harta", dia manusia bisa menjajah lewat budaya (globalisasi, liberalisme), kekuatan ekonomi (kapitalisme), kekuatan politik (democrazisme) dll. Dia bisa menggunakan "harta" nya untuk menjajah manusia lain yang tidak mengelola "harta" nya untuk kesejahteraan sesama manusia dan ciptaan lain dari TUHAN YMK.

Ingat dan marilah kita membangun, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan bangsa sendiri. Semuanya untuk INDONESIA RAYA.

Salam SEHAT, don_C


Referensi:
1. Paradoks Perubahan Masyarakat Kita. Diakses di http://elfitra.multiply.com/journal/item/30. 19 April 2011
2. Proses diskusi dalam milist2 dan jejaring sosial yang membahas AM dan ANM s/d April 2011
3. Jim Supangkat dan Rizki A Zaelani. Ikatan Silang Budaya. Seni Serat Biranul Anas. Diterbitkan Arts Fabrics bekerjasama dengan KPG. Cetakan Pertama, Nopember 2006


4. Situs2 elektronik yang membahas pembangunan dan peradaban.

Minggu, 27 Maret 2011

Tanggung Jawab dalam Lingkungan Ilmuwan

Dear Pembaca Yang Budiman,

Apa yang akan anda perbuat bila berada dalam peristiwa ini? Pada suatu sesi sharing antara ilmuwan senior dengan calon2 ilmuwan terkait materi perilaku ilmiah (research conduct), di satu sisi ilmuwan senior memvonis salah satu peserta melakukan plagiat. Di sisi lain, makalah yang dipresentasikan ilmuwan senior (halaman pertama memuat judul dan nama ilmuwan senior tsb), namun isi tidak mengandung referensi atau acuan bahkan di akhir makalah tidak ada juga daftar kepustakaan dari makalah yang dia buat.

Tentu, bisa banyak yang terjadi, misal sbb:
- Kaget dengan vonis itu
- Tidak menyangka ada perilaku "berani" tsb
- Berpikir ahh....pemberi vonis juga plagiat, karena makalah tanpa referensi
- Sungguh terlalu ilmuwan senior tersebut
- Sungguh kasihan dengan calon ilmuwan tersebut
- dll bisa empati pada calon ilmuwan atau tidak simpati pada ilmuwan senior.

Pembaca, nurutku, kalo memang ilmuwan gunakanlah perilaku ilmuwan untuk menyikapi peristiwa tsb. Ada tanggung jawab moral, ilmiah dan etika. Jadi tidak usah ikut2an memvonis. Kita hanya bisa simpati pada "nasib buruk" calon ilmuwan dan simpati pada "lupa diri" ilmuwan senior. Yang harus kita lakukan adalah mengelola sistem atau mekanisme untuk pergaulan ilmiah selanjutnya. Dalam ajaran iman, mungkin di semua iman ada, kita sebagai sesama manusia tidak berhak menghakimi, karena bukan kita manusia yang menciptakan.

Apa sih itu tanggung jawab moral, ilmiah dan etika dalam kehidupan ilmuwan? Baik mari kita dalami bersama.

Tanggung jawab MORAL (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan nilai-nilai moral (mendukung kebenarankah?, lebih besar manfaat dari mudaratkah?, dsb) yang dianut dan dipahami bersama dalam lingkungan besar dimana ilmuwan hidup dan berkarya. Contoh implementasi bisa melihat kasus riset susu formula yang heboh belakangan ini. Secara moral, apakah periset sudah memikirkan efek atau dampak hasil riset kepada konsumen, pekerja dan pabrikan? Ini baru satu hal.

Tanggung jawab ILMIAH (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan persyaratan2 ilmiah (sahihkah?, relevankah?, bermanfaatkah?, orijinalkah? dsb) yang dianut dan dipahami oleh komunitas ilmuwan. Contoh implementasi adalah data dan/atau informasi yang beredar apakah berdasarkan bukti/fakta yang sesuai realita? Ini baru satu hal.

Tanggung jawab ETIKA (menurut beberapa rujukan yang kubaca via internet) adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh ilmuwan terhadap dinamika kehidupan, berdasarkan etika2 keilmiahan (boleh atau tidak boleh, layak atau tidak layak, dsb) yang dianut dan dipahami oleh komunitas ilmuwan. Contoh implementasi adalah perijinan untuk mengumpulkan data/mengambil spesimen. Ini baru satu hal.

Jadi belajar dari kasus vonis plagiat di contoh event di atas, atau kalo mau pada kasus2 perilaku ilmuwan yang tidak bertanggung jawab yang masih banyak terjadi di dunia dan Indonesia, sewajarnyalah kita kembali pada sistem atau mekanisme yang kita buat. Satu prinsip adalah segala sesuatu yang dibuat oleh ilmuwan tetap terbuka peluang untuk timbul ketidaksesuaian dalam proses dan hasil. Jadi hal2 negatif yang timbul dalam proses dan hasil adalah sesuatu yang mau tidak mau, suka tidak suka, niscaya pasti bisa terjadi.

Jadi kalo mau salah2an ya salahkan diri sendiri, yang membuat dan yang berpartisipasi. Tapi itu bukan akhir dari kehidupan ilmuwan kan? Tugas dasar ilmuwan adalah menemukan "harta karun" yang sudah disediakan (diciptakan) oleh Sang Mahailmuwan (TUHAN YANG MAHA KUASA). Implementasi tugas inilah yang harus kita, ilmuwan, kawal dengan perilaku yang bertanggung jawab secara MORAL, ILMIAH dan ETIKA.

So, majulah, berkaryalah dan temukanlah "harta karun" itu, teman2 ilmuwan. Salam SEHAT.

Kamis, 17 Maret 2011

Korupsi, TUHAN dan Manusia

Jumpa lagi kawans,


Awak lagi syur nulis sesuai Judul! Tak apalah ya. Mumpung lagi muncul ide dan mumpung ada semangat nulis. Jadi ayoklah kawas.


Pernah baca ulasan Ekonom Faisal Basri di Kompas tentang Korupsi, yang mengakibatkan penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan. Ganas dan teruk lah dampak korupsi itu ya.


Lalu, lihat tak, tayangan di SCTV, kemarin (16 Maret 2011), antara Cinta Uya Kuya dan Jeremy Teti. Budak cilik Cinta ini sulap dengan 4 gelas (sangat besar, besar, sedang, kecil) dan susu cair. Seru...pesan moral, korupsi itu mau kecil, mau sedang, mau besar, apalagi sangat besar.....adalah kriminal dan salah secara hukum dan etika.


Lalu apa kaitan dengan judul?


Mareeeeee.....!


Korupsi: penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan
Penderitaan hidup: mengalami sakit spiritual, emosional, intelektual, fisik, dan sosial
Kemiskinan: tidak berperilaku hemat dan manusiawi (tidak bisa berkarya sebagai manusia dan tidak memuliakan TUHANnya)
Kebodohan: tidak berpendidikan (tidak dekat dengan TUHANnya, akhlak jelek, tidak mengendalikan diri, tidak mandiri, tidak cerdas, tidak terampil)
SEJAHTERA: Sehat, Berpendidikan dan Tidak Ada Kemiskinan (hubungan dengan TUHAN dan Sesama mesra).


Mau buat kesimpulan?
1. Korupsi karena tidak mesra dengan TUHANnya dan tidak memanusiakan Sesama dan dirinya
2. Sejahtera dengan dekat dengan TUHANnya dan berperilaku sebagai Manusia ciptaan TUHANnya.
3. Ekstraksinya adalah "Kasihilah TUHAN mu dengan segenap akal budimu, dan Kasihilah Sesama mu Manusia seperti engkau mengasihi dirimu"


Amen.

INDONESIA Ku, Tetaplah Membangun

Temans Pembaca yang awak kasihi,


Sudah lihat apa dan bagaimana dampak dari isu pengalih dan isu sebenar? Pusing, selow, masa bodoh, lantak kaulah itu, sukak-sukak kaulah pakcik/makcik, kau atur lah, dll, mungkin ada salah satu/lebih dari satu ekspresi itu yang cocok dengan anda.


Mari tengok dengan cermat pemberitaan di media cetak/elektronik, ada yang nafasnya mengangkat hati nurani rakyat, amanah rakyat, pembela umat, pembela kelompok/kepentingan, dll. Bahkan, ada dalam satu media, ada berita/isu yang saling berlawanan, misal satu memberitakan A, di kolom lain memberitakan B. Macam mana pulak?


Media itu, apa cuma nak cari omset dan oplah baca aja kah? Tak ada "nyali moral" memberitakan aslinya. Riset (investigasi) jurnalis sudah jarangkah...?


Hahaha...jangan berkernyit dahi dulu kawans. Itulah membangun. Mau konteks lain.....nah bacalah berikut ini.


Negara dan bangsa yang merupakan saudara tua dari timur (Jepun) sedang mengalami musibah gempa dan tsunami; yang dinilai lebih tinggi tingkat keparahannya dari tsunami Aceh. Tapi ingat, tingkat tinggi itu juga dibarengi dengan tingkat tinggi kepedulian rakyat dan pemimpin.


Nah, ini banyak dikomentari di Indonesia. Ohhhh, membangunlah Indonesiaku. Pantes kita dikenal banyak komentator dan istilah asbun dan NATO muncul dari Indonesia. Ingat, kritik pelajar di LN di hadapan Presiden kita dulu. Dibalas "emosi" pulak dari si Presiden, kira2 "jangan sukak menjelek2kan negara sendiri". Jadi berkomentarlah jangan didepan yang dikomentari.....qiqiqiqiqi.


Kawans, .... tenang paragraf di atas hanya sekedar kopibrik ato tibrik. Sebenarnya, apa sih INDONESIA, sehingga sulit kali kelihatan kinerja pembangunannya?


Sebelum merdeka sebagai NKRI, pra 17 Agustus 1945, embrio2 sudah ada. Kenapa awak berani sebut embrio? Yah, lihat aja, setelah jadi NKRI, tetap gampangan di adu domba, diberi isu sampah, dipanas2i, dll. Juga hal2 yang sebenarnya positif tapi tetap dibawa dalam konteks negatif. Ingat "korupsi berjamaah", standar KKN aja masih bingung dan masih ada salah implementasi, lalu budaya malu bila diberitahu kelemahan/kejelekan (moratorium utang, budaya koteka, rumah2 adat, dll).


Tapi brur, banyak tokoh2 bangsa ini! Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan Bung2 lain. Ki ini, Kyai ini, Pak ini, Ibu ini. Iyalah kawans, awak tak nafikan itu. Tapi apa penerusnya, sadar dan paham, nak buat apa dengan hasil perjuangan tokoh2 itu? Kan lebih enak jadi pengisi, peniru, ....yah paling maksimal inovator. Inventor tak nak lah.....tak perlulah.....lama duitnya tu, ...kapan terkenal dan balik modal awak. Jiaaaahhhhh.


Mau jadi pengisi pembangunan di INDONESIA yang MERDEKA ini. Camkan:
1. Bangsa yang bertumbuh adalah bangsa yang berjuang untuk bertumbuh
2. Upayakan dan Ikhlaskan apa yang kau berikan pada INDONESIA
3. Jangan malu jadi INDONESIA, tunjukkan peradaban INDONESIA sebenar
4. Manfaatkan dan peliharalah hasil bumi INDONESIA untuk anak bangsa.


Nah, mau jadi pekerja, buruh, pendidik, profesional, pelayan, petinggi, pemilik, dll, terserahlah..itu perjuanganmu. Tapi camkanlah apa dan bagaimana kau menjadi itu tadi!


Terakhir, ingat KORUPSI membunuh peradaban generasi anak cucu kita, yang dengan ikhlas sudah menitipkan INDONESIA ini pada kita, pendahulu2 mereka. Sudikah lihat mereka menderita dalam hidup, menjadi miskin, menjadi bodoh, dan dijajah kembali oleh budaya dan peradaban selain INDONESIA.


TUHAN ampunkanlah dosa kami dan bukalah akal budi kami untuk membangun sesuai amanah yang KAU berikan kepada kami, sebagai Pengelola Bumi INDONESIA. AMEN 

Jumat, 11 Maret 2011

ISU: sebuah tool kehidupan menuju perubahan yang positif

Dear Kawans,

Sering mendengar isu kan? Awas kalo mikir dan bilang tidak! Hahahaha.

Menurut KBBI, isu adalah masalah yang dikedepankan untuk mendapatkan tanggapan. Isu muncul seiring adanya kebutuhan akan perhatian, atau karena ada penelantaran kondisi negatif, atau karena ada penderitaan massal.

Artinya, dalam kehidupan manusia, isu tidak pernah tidak muncul. Isu adalah suatu keniscayaan, yang mau tidak mau, suka tidak suka, pasti muncul. Ini juga dipengaruhi oleh sifat manusia sebagai mahluk sosial, yang butuh interaksi dengan sesama manusia.

Nah, melihat kondisi kehidupan NKRI ini, tentu kita tahu sudah banyak isu, sebutlah mulai awal tahun 2011 ini. Mulai dari politik (angket mafia pajak, reshuffle kabinet, fasilitas pejabat negara/publik, dll), hankam (kekerasan, anarki, teroris, dll), humaniora (malpraktek rumah sakit/dokter, pembunuhan, korupsi, ngutang, PSSI/pembinaan olahraga, dll).

Bila cermat, kita tentu mampu menilai apakah isu2 yang dikedepankan (baca dilemparkan, lebih banyak oleh bukan pihak yang berkepentingan langsung, tapi oleh broker isu/kepentingan) sesuai substansi masalah atau hanya sekedar mengalihkan perhatian publik dari isu yang sebenar.

Dalam hal isu, secara mendasar adalah suatu alat yang wajar dan bagus untuk menyelesaikan masalah, makanya setiap proposal/protokol riset perlu merumuskan isu atau pertanyaan riset yang butuh dijawab, dan perlu ada teknik/tolok ukur dalam mengelola isu.

Mengadopsi dari UNICEF dalam http://www.unicef.org/indonesia/id/06_Modul_5_Perumusan_Isu_Strategis.pdf, ada 7 tolok ukur untuk menilai isu, yang aku sesuaikan dalam beberapa hal, yaitu:
1. Aktual: apakah isu tersebut sedang jadi pusat perhatian?
2. Urgensi: apakah isu tersebut mendesak?
3. Relevansi: apakah isu tersebut sesuai kebutuhan?
4. Dampak positif: apakah isu tersebut bila dibahas akan membantu perubahan?
5. Kesesuaian: apakah isu tersebut sesuai dengan visi dan misi dari pihak yang membutuhkan penyelesaian?
6. Inklusi: Apakah dalam pembahasan dan penyelesaian isu, pihak yang membutuhkan dapat berpartisipasi?
7. Sensitivitas: apakah isu tersebut aman dari efek dan/atau dampak sampingan yang negatif?

Sebenarnya, masih banyak teknik/tolok ukur lain, namun yang ini menurutku sudah cukup layak kita jadikan alat acuan untuk membahas isu-isu di NKRI ini. Ayo dan mari kawans.

Tolok ukur 1. NKRI ini, dalam hal ini sebagian besar warga, suka seX dengan isu. Mungkin ini udah jadi sifat manusia kali yah? Kok begitu? Yah, lihat aja di stasiun, terminal, atau tempat2 umum lain, pasti banyak kita jumpai orang yang sedang membaca, bercakap2, mengakses gadget untuk lihat situs2 informasi. Nah, tolok ukur 1 ini adalah bersifat general.

Tolok ukur 2. Nah, ini sudah mulai spesifik dan substantif. Apakah isu2 yang ada di NKRI jadi pusat perhatian masyarakat umum. Banyakan tidak kan? Yang iya hanya kasus korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan lahir batin orang miskin dan bodoh tadi (termasuk yang jatuh miskin karena sakit). Yang lain, ditumpangin lewat....yah untuk pengalihan tadi, misal PSSI, reshuffle kabinet, sufor tercemar bakteri ES.

Yahhhhh, ............napa awak jadi terhanyut alunan isu2....mari kita lihat tolok ukur 3, sesuai kebutuhan kah? ......ini harus cerdas mengentifikasikan kebutuhan siapa? Kalau "masif"....mudah2an benar nih istilah....dari brother kecik awak lah ini istilah....artinya besar dan luas dan massal ya? Kalau masif baru oke! Berarti contoh isu2 pengalihan bisa kita nilai dengan tolok ukur 3, bisa dapat mana yang stratejik mana yang pengalihan. Jadi tak hanyut kan awak.....

Nah, tolok ukur 4, apa ada dampak positif untuk perubahan. Ini juga harus masif..kan NKRI. Tak soal bila perubahan itu lambat (tidak masuk mainstream) yang penting kontinyu dan berkesinambungan. Ingat kata2 tokoh dunia "benarlah orang yang masuk dalam barisan minoritas yang membawa perubahan benar, karena lama2 minoritas ini akan jadi mayoritas". Tentu benarlah itu, wong sifat dasar manusia adalah kenyamanan yang hakiki bukan semu alias analog dengan kebenaranlah akhirnya yang menang...tentu dengan memperjuangkan itu.

Tolok ukur 5, visi dan misi. Apa intervensi terhadap isu sesuai dengan cita2 dari yang membutuhkan. Soal ini, di NKRI, seperti ulasan Ekonom Bang Faisal Basri, MA di Kompas minggu lalu, KORUPSI menyebabkan penderitaan hidup, kemiskinan dan kebodohan. Nah ini lah cita2 yang dibutuhkan, yaitu "Pemberantasan Korupsi dan Efek/Dampak Negatif Korupsi".

Tolok ukur 6, keikutsertaan dari pihak yang mebutuhkan. Kalo dalam isu2 pengalihan..mana bisa. Coba, emang bisa intervensi kasus PSSI? paling demo aja, boikot kalo mau. Kalo reshuffle....emang bisa????? Nah, kalo isu korupsi bisa, sebarkan bukti2 fisik kasus korupsi (foto, audio, video, dokumen, dll)......dijamin.....kebakaran jenggot lalu buat isu pengalihan....wkwkwkwk.....wekwekwek.

Tolok ukur 7. Intervensi isu apa menimbulkan dampak negatif........kalo isu pengalihan....wah....adaaaa! Energi untuk isu sebenar habissssssss! Kalo isu korupsi, misal, dampak negatif tak ado, kalo dampak positif banyak.....hilangnya kemiskinan, kebodohan dan penderitaan hidup.

Nah, kawansku.....Mr. President John F. Kennedy pernah berujar "Jangan tanyakan apa yang negaramu dapat berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu?".

So.......aku tau kamu dan kamu tau aku....apalagi bila kita sesama PN.....dan berinteraksi dengan orang, barang dan jasa. Banyak godaan dan realita lingkungan berpotensi negatif. Tidak ada kata terlambat, mulai pelan2 tapi jangan tidak sama sekali....sertai dengan advokasi, mobilisasi dan doa pada TUHAN mu dan TUHAN ku.

Selamat bekerja dan Selamat Berkarya. AMEN 

Kamis, 10 Maret 2011

Peran Ilmuwan dalam Politik dan Kebijakan: Kasus Riset Susu Formula

Dear Kawans,

Begitu hot isu akibat riset susu formula akhir-akhir ini. Saya jadi ingat nilai2 dalam dan di institusiku yang juga banyak Peneliti, boleh salah tidak boleh bohong, kebebasan dalam keteraturan/ketertiban, juga ada menjunjung tinggi moral, etik dan ilmiah.

Lalu sempat baca di situs berita elektronik bahwa IPB mengatakan mereka tidak berwenang menginformasikan nama/merek susu formula dan terikat dengan mekanisme ilmiah dan akademik. Ini memang patut diapresiasi, namun ..... tidak mampu menenangkan masyarakat dan menyelesaikan isu ini. Di lain event, ada sharing dari tokoh peneliti di institusiku bahwa sebagai Peneliti sebaiknya juga sudah memprediksikan/memperhatikan akibat dari isu riset yang diangkat dan siap bila akibat cepat muncul dari pihak2 yang terkena/berkepentingan.

Nah, hebatnya daya tahan beberapa kelompok konsumen/pemakai/pemberi susu formula terhadap isu susu formula mengandung bakteri ini ada yang sangat tinggi atau tinggi. Mereka "pasrah" dan tetap mengonsumsi karena kebutuhan dan tuntutan dan tanggung jawab atau keterpaksaan.

Sebagai bagian dari kalangan ilmuwan, mari kita baca dulu kutipan dari artikel Elisabeth Rukmini berikut ini (artikel lengkap dapat dibaca dengan mengklik judul tulisan di atas).

Peran Ilmuwan: Politicization of science tidak terkait hitam putih sains dan politik atau pengambilan keputusan. Dalam isu-isu terkait sains, teknologi, dan kehidupan masyarakat, politicization of science penting dipandang sebagai advokasi. Contoh, isu lingkungan terkait sumber energi terbarukan atau perubahan iklim. Pengambil keputusan membutuhkan tenaga ahli untuk menilai aksi apa yang perlu dipilih. Pielke dalam buku The Honest Broker (2008) merangkum empat peran ilmuwan dalam politik dan policy. Keempat peran itu adalah the pure scientist; the science arbiter; the issue advocate; the honest broker of policy options.


Di antara peran-peran itu ada stealth issue advocacy bila ilmuwan dibayangi keuntungan pribadi untuk mengegolkan isu tertentu, ada konflik kepentingan. Peran pertama dan kedua berjalan baik, bila nilai suatu isu amat jelas dan derajat ketidakpastiannya amat minim. Ketika ada konflik nilai dan ketidakpastiannya jelas, peran ilmuwan sebagai the issue advocate dan the honest broker terlihat jelas. Peran ketiga berbeda dari peran keempat dalam pilihan solusi yang disodorkan ilmuwan kepada pembuat keputusan. The issue advocate membawakan satu opsi dengan analisisnya, sedangkan the honest broker mengajukan beberapa opsi beserta analisis positif dan negatifnya.

Pertanyaannya, dimanakah posisi ilmuwan kita? Memasuki masa kampanye pilpres, penting bagi ilmuwan (dan capres-cawapres) memperhitungkan politicization of science dalam penilaian program-program yang ditawarkan para calon. Masyarakat berhak mengetahui duduk persoalan isu-isu penting dan menyangkut harkat hidup orang banyak. Ilmuwan pantas menjalankan pilihan empat peran itu demi masyarakat terdidik. Peran pertama (the pure scientist) dan kedua (the science arbiter) tentu penting. Namun, peran ketiga dan terutama keempat amat penting dalam politicization of science. Para calon pemimpin layak menyodorkan siapa ilmuwan terpilih yang menjadi penasihat kepresidenan dan rencana program mereka. Ilmuwan di luar sistem mengkritisinya sehingga politicization of science menemukan opsi terbaik.

Belajar dari Jepang, penasihat sains kepresidenan mengusulkan negara memberikan insentif bagi sektor industri yang berhasil mengurangi emisi karbon tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini sektor industri bersandar pada penelitian dan advancement di bidang emisi karbon (bergantung peran the honest broker). Pertalian ilmuwan dengan politik dan policy tak mungkin dihentikan.

Dari artikel tersebut, mungkin ada beberapa faktor2 utama untuk ilmuwan dalam mengelola tanggung jawab moral, etik dan ilmiah bagi pengabdian untuk kesejahteraan manusia, sbb:

  1. Pengambil keputusan membutuhkan tenaga ahli untuk menilai aksi apa yang perlu dipilih 
  2. Masyarakat berhak mengetahui duduk persoalan/isu-isu penting dan menyangkut harkat hidup orang banyak 
  3. Ilmuwan pantas menjalankan pilihan empat peran itu (the pure scientist; the science arbiter; the issue advocate; the honest broker of policy options) demi masyarakat terdidik 
  4. Pertalian ilmuwan dengan politik dan policy tak mungkin dihentikan. 
Dalam menjalankan peran dan tanggung jawab tersebut, kalangan dan institusi ilmuwan harus dinamis dan berinteraksi dengan positif. Jadi bila ada riset yang menimbulkan gejolak di masyarakat, idealnya ada riset pembanding atau riset terkait keamanan (untuk kasus susu formula ini) atau bahkan riset kohort terkait dampak konsumsi susu formula. Dinamika dan interaksi ini sebagai implementasi peran dan tanggung jawab kalangan/institusi ilmuwan, mampu menjernihkan konteks isu, memberikan informasi yang simetris kepada masyarakat, dan mampu memberi dorongan untuk memanusiakan manusia2 baru (bayi2 yang perlu ASI eksklusif).

Satu hal, kepada kalangan konsumen susu formula atau pemberi susu formula, tetaplah berperilaku hidup bersih dan sehat. Dalam menyiapkan susu formula untuk bayi-bayi manusia, ikuti petunjuk penyiapan, dapat dibaca di wadah susu formula, atau konsultasi dengan dokter atau rajin2lah membuka dan memahami iptek di situs2 internet.

Berikut kutipan dari situs www.pom.go.id, sbb:

Cara Membersihkan dan Sterilisasi Peralatan:

  1. Cuci tangan dengan sabun sebelum membersihkan dan mensterilkan peralatan minum bayi 
  2. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol dan sikat dot) dengan air bersih yang mengalir 
  3. Gunakan sikat botol dan sikat dot untuk membersihkan bagian dalam botol dan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan 
  4. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir 
  5. Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan 
  6. Bila sterilisasi dengan cara direbus: (a) Botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara di dalam botol, (b) Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5 - 10 menit, dan (c) Panci biarkan tertutup, biarkan botol dan dot di dalamnya sampai segera akan digunakan 
  7. Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot 
  8. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus: (a) Botol harus disimpan di tempat yang bersih dan tertutup, (b) Dot dan penutupnya terpasang dengan baik. 
Cara Menyiapkan dan Menyajikan Susu Formula:
  1. Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula 
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan 
  3. Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup. 
  4. Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci/ketel tertutup selama 10 - 15 menit agar suhunya turun menjadi di atas 70 derajat C. 
  5. Tuangkan air tersebut (suhunya di atas 70 derajat C) sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan. 
  6. Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi. 7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik. 
  7. Dinginkan segera dengan merendam bagian bawah botol susu di dalam air bersih dingin, sampai suhunya sesuai untuk diminum (dicoba dengan meneteskan susu pada pergelangan tangan, akan terasa agak hangat, tidak panas). 
  8. Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.
Moga semua bermanfaat untuk kehidupan manusia. Amin.

Selasa, 04 Januari 2011

Catatan Awal Tahun 2011

Dear Pembaca yang Budiman,

Selama tahun 2010, kita disuapi dan disuguhi dengan berita2 mengenai korupsi, terorisme, perampokan dan ulah negatif tokoh2 publik/negara. Namun, di akhir tahun kita disiram air dingin oleh berita perkembangan persepakbolaan tanah air, yang mulai kelihatan semangat mau maju.

Sewajarnya, di setiap awal sesuatu event, kita dikomunikasikan dengan pesan2 berpengharapan dan optimis. Kenapa? Karena ini sifat dasar manusia sebagai mahluk hidup. Hidup adalah Berpengharapan. Kalau asa sudah hilang, hilanglah semangat untuk berpenghidupan.

Temans, banyak negara dalam tahun 2010 ini, dominan mengalami pembangunan negatif, karena banyak sekali ancaman dan hambatan dalam memuliakan manusia dan alam ini. Bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, terjadi di mana-mana.

Semua itu adalah pembelajaran, agar kita, manusia selalu bangkit, membangun dan berpengharapan. Yang utama adalah, kita sadar dan paham bahwa sebagai manusia adalah mahluk sosial. Ini membutuhkan relasi dan interdependensi sesama manusia.

Jadi Temans, tidak ada yang bisa menciptakan, hanya menemukan. Ayo, kita temukan lebih banyak lagi, suara, karya dan cipta dari peradaban untuk kesejahteraan manusia dan alam ini.

So, mari bekerjasama, bermitra dan bersinergi sebagai manusia.

Salam SEHAT.

Jumat, 19 November 2010

Susahnya Merubah Perilaku! Ternyata Kebutuhan Dasar Ini, CONTOHNYA!

Dear All,

Untuk artikel sesuai judul, tanpa banyak nulis dan mikir.....ini ada tulisan yang ringan dan mengena, terutama paragraf yang bewarna merah. TK buat Donny Verdian atas upayanya lewat tulisan berikut. Ini kukopi dari http://donnyverdian.net/2010/10/04/tentang-mencuci-tangan-setelah-kencing.html.

Beberapa hari yang lalu aku ngonangi (menangkap basah -jw) teman yang setelah buang air kecil lalu keluar begitu saja dari toilet tanpa mencuci tangan… dan sejak saat itu stigma ‘bersih’ yang selalu kutempelkan pada dirinya menguap sudah.

Temanku tadi lelaki dan karena aku juga lelaki, bagiku dan seharusnya baginya, sehabis kencing hukumnya adalah ‘wajib’ untuk cuci tangan karena kencing bagi lelaki berarti harus mengeluarkan alat kelamin, memegangnya dan mengarahkannya ke lubang pembuangan lalu atas nama aliran kencing yang tak serabutan, kita harus ‘memegangi’ nya selama proses kencing berjalan. Setelah usai, dengan tangan yang sama kita juga harus memasukkan alat kelamin lagi ke dalam celana. Kita tak pernah tahu apakah aliran air kencing yang adalah kotoran tubuh itu ada yang memercik di jari dan telapak tangan atau tidak kan? Belum lagi kalau mereka yang mengganti celana dalamnya seminggu sekali atau kalau mandi tak pernah membersihkan area kemaluannya… ah, you tau sendiri lah dan bayangkanlah!

Pernahkah pula kalian membayangkan ketika kalian sedang jajan bakso di abang-abang yang berjualan di bawah pohon beringin? Dimana kira-kira kalau ia harus kencing dan bagaimana caranya membersihkan?
“Tuh, muter aja di balik beringin ini lalu kencing aja disitu!” jawab salah seorang abang penjual bakso yang dulu pernah kutanya “Bang, kebelet kencing nih, enaknya dimana ya?”
“Lha cucinya?”
tanyaku
“Cuci apaan?” ujarnya sambil melayaniku, mengambil gumpalan mie dengan kedua tangannya lalu memasukkan ke dalam mangkuk yang hendak dihidangkannya kepadaku… ya, kedua tangannya yang barangkali sejam atau dua jam atau bahkan 15 menit sebelumnya baru dipakai untuk memegang alat kemaluannya untuk kencing di balik beringin itu…


Jadi pentingkah mencuci tangan selepas buang air kecil?
Sekali lagi, bagiku itu penting meski sebenarnya kegiatan itu tak lebih dari sekadar menguatkan ‘peace of mind’ bahwa kita telah melakukan proses pembersihan meski bersih atau tidaknya ya embuh. Sama tho dengan iklan sabun cuci tangan yang sepertinya hingga kapanpun tak kan pernah berani mengklaim mampu membasmi 100% kuman yang menempel di tangan… paling banter 99% lah karena seperti yang kerap diucapkan oleh mereka yang beragama bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan.. ya ndak salah juga!
Setidaknya di sini, di Australia sini, di beberapa toilet umum, di balik pintu keluarnya biasanya ditempel tulisan seperti yang ada di foto di atas.
Jadi, mau tidak mau, demi menyelamatkan muka, mencuci tangan adalah dianjurkan meski itu hanya sekadar menyalakan kran air beberapa detik lalu menaruh tangan di sana dan… “srettt” sudah, tanpa harus membubuhkan sabun di atasnya yang penting toh sudah tidak melanggar aturan yang ada.
Lalu kenapa kira-kira temanku tadi bisa tak melakukan cuci tangan setelah kencing ya?
Kupikir itu terjadi karena ia merasa sendirian di dalam toilet dan tak ada orang lain yang mengintainya padahal ketika ia kencing aku masuk dari pintu toilet yang lainnya lalu sama-sama kencing. Dari kaca kulihat bahwa itu dia, temanku tak salah lagi, namun setelah dia selesai melepas hajat, tak kujumpai ia mampir ke wastafel untuk mencuci tangan melainkan langsung ngeloyor pergi, membuka pintu, keluar dan membiarkan pintu itu tertutup sendiri.

Dalam hal ini, apa mau dikata disiplin kadang memang baru sampai pada tahap bubuhan kosmetik di wajah. Sekadar sesuatu yang patut ditunjukkan di muka orang tapi tak perlu ketika tak ada muka orang di dekatnya. Disiplin, sayangnya, butuh kondisi yang mendukung orang untuk mau-tak-mau mendisiplinkan diri dan kawanku tadi adalah salah satu contohnya bahwa ketika tak ada orang, tak perlulah kita mencuci tangan toh tak ada orang yang melihat.

Ya sudah, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sepeninggal kawanku tadi pergi. Kumasukkan alat kemaluanku ke dalam celana, kutarik ritsleting dan kubenahi letak baju serta mengunci lagi sabuk.

Lalu kamu mencuci tangan atau tidak, Don? Kan tak ada orang lain lagi disitu?
Wah, kalau itu rahasia ilahi, hanya aku dan Tuhan yang tahu :)

MOGA DENGAN ARTIKEL DI ATAS, KAMU-KAMU BISA BERUBAH LEBIH SEHAT.

Salam SEHAT, don_C

Ketidakberdayaan Indonesia?

Dear Anak Bangsa NKRI,

"Saudi maupun Malaysia harus diberi pernyataan keras. Ini bukan kasus yang sekali saja tetapi kita seperti tidak berdaya," kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi'i Ma'arif.

Pernyataan di atas dari seorang tokoh bangsa, sebenarnya bisa merupakan representatif akumulasi dari pertanyaan2 dari seluruh rakyat NKRI! Ada apa dengan NKRI. Di dalam negeri, menghadapi banyak persoalan negara dan bangsa, tidak tuntas dan ada tidak semua ada solusi yang bermanfaat. Apalagi dengan persoalan di lingkungan internasional.

Masih ingat pasca reformasi, pada saat negara2 Amerika Selatan dan Afrika berhasil mendapatkan moratorium utang....dengan santainya Indonesia berkata "...kita masih punya harga diri...atau semacamnyalah", so....tidak ada moratorium utang untuk NKRI. ANEH! Kalo untuk hal ini, ada rasa malu, tapi untuk kasus2 menyangkut personal, kinerja pejabat publik dan institusi publik...kemana rasa malu itu???

Bangsa yang maju adalah bangsa yang merubah dirinya menjadi lebih baik dan benar! Nah lho...NKRI?

Sudah banyak ilmu tentang prioritas dan penyelesaian masalah, sudah banyak pejabat publik yang tahu dan paham ilmu itu, namun tidak banyak yang komit untuk aplikasinya demi kesejahteraan NKRI.

Coba aja, saat krisis s/d sekarang, banyak kasus bencana, banyak kasus HAM (penyiksaan TKW), banyak kasus extraordinary (korupsi, teror, anarki, narkoba), banyak kasus tidak tertib administrasi negara (pejabat negara senang ke LN tanpa ijin, dll), banyak kasus penyelewengan hukum, intervensi/intimidasi institusi penegak hukum (KPK, MK, KY, Polri, Kejaksaan, MA, lembaga advokat). Namun, Indonesia seperti kehilangan arah dan strategi untuk membuat/membangun lebih baik dan benar.

Lalu apa gunanya amanah rakyat yang sudah diperoleh? Apakah "kekurangan" ini sengaja dilakukan dengan dalih mencegah perpecahan bangsa? Ahhh.. jadi teringat kasus 30 Sept 1966, dengan kata2 mutiara, "...ambil ikannya tanpa membuat airnya keruh".

Semua ini tidak ada kata terlambat, gunakanlah sisa waktu untuk berbuat lebih untuk NKRI ini. Apa yang ditakutkan? Apa yang dipikirkan terlalu jauh? Apa...........kebutuhan dan keinginan?

Seperti, tulisan sebelumnya, tentang Indonesia sebagai Laboratorium Terlengkap di Dunia. Yah...inilah realitanya...mau kasus atau simulasi apapun, bisa tersedia!

Saran buat mu dan buat kalian!
1. Berdoalah dengan iman
2. Gunakan dengan positif kebhinekaan dan keikaan NKRI untuk membangun
3. Gunakan dengan positif keikaan dan kebhinekaan NKRI untuk berubah
4. Membangunlah dan Berubahlah
5. Berdoalah dengan iman

Hehehe...aplikasinya yah..kamu dan kalian sila berimprovisasi dengan positif, kreatif dan inovatif.

Salam SEHAT.

Kamis, 11 November 2010

Catatan Ringan dari acara Newsmaker Metro TV: Ora et Labora

Dear Temans,

Demenkah dengan acara Newsmaker di Metro TV? Pokoke seru deh. Kalo belum pernah lihat, coba deh ikutin, banyak catatan yang dapat dibuat.

Salah satu yang akan ditulis adalah topik terkait seorang menteri yang "dinilai harus mundur" akibat kinerja organisasinya yang tidak bagus. Nah, sang menteri malah bertanya, "apakah dengan mundurnya saya, selanjutnya akan lebih baik?"

Bagaimana tanggapan temans? Menurutku, pertanyaan balik sang menteri sangat tidak layak dan produktif. Bagaimana mau jadi bagus kalo dia tidak legowo untuk mundur dan memberi kesempatan kepada orang yang layak, kredibel dan kompeten? Sementara kinerjanya sudah "dinilai tidak bagus"!

Memang budaya malu dan maju di NKRI ini masih kalah dengan negara Jepang, Korsel dan China. Ke3 negara ini sangat menjunjung tinggi nilai2 kehormatan dan harga diri. Kalo sudah dinilai tidak pantas dan bagus, pasti legowo untuk memberi kesempatan dan ruang bagi orang lain.

Yang pasti, di NKRI ini tidak jamak ada menteri yang mundur/tidak menjabat lagi dalam jabatan, kecuali sakit keras dan meninggal. Di sini tidak berlaku pepatah manusia mati meninggalkan nama yang baik. Padahal, suatu jabatan adalah AMANAH yang harus dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan oleh pemberi amanah dan penerima amanah.

Ada apa sebenarnya? Di sini, ada sesuatu yang tidak tepat dalam mengelola amanah, baik dari si pemberi amanah dan si penerima amanah! Padahal ke2nya di awal menjabat harus bersumpah/berjanji kepada TUHAN yang diimaninya, bahwa akan bekerja untuk kesejahteraan publik. Lha, kalo kinerjanya malah membuat rakyat kecelakaan, cacat, dan meninggal, mana tanggung jawab dan tanggung gugat dia?

NKRI ini dibangun dengan doa, darah dan air mata, bermodalkan bambu runcing, pekik MERDEKA atau MATI, berlandaskan demokrasi yang beretika. Pada jaman revolusi, sudah banyak kali kabinet berganti dan ini bukan suatu masalah, malah suatu bukti bahwa pembangunan sedang berproses.

Catatan lain, jangan2 pomeo bahwa pemimpin identik dengan kinerja yang dipimpin adalah benar, sehingga pemimpinnya tidak berani memecat (mengganti) pembantunya yang tidak bagus (becus), takut dinilai sebagai pemimpin yang tidak bagus (becus) juga kali ya?

Ahhh, sudahlah...karena ini hanya catatan ringan, kita sudahi pendalamannya. Hanya satu pesan moral dari catatan ini, bila sudah membuat sumpah/janji dalam mengemban suatu amanah, selanjutnya berdoalah lalu bekerja dan berdoa lagi, agar semua usaha kita diberkati oleh TUHAN yang kita imani. Amin.

Salam SEHAT.

Efektif & Efisiensi: Belajar dari Budaya Korporat

Dear Temans,

Secara sederhana, efektif dapat diartikan sebagai pencapaian suatu tujuan dengan pengelolaan sumber2 yang benar dan tepat. Efisiensi dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber2 dengan nilai2 hemat, tepat dan layak.

Nah bagaimana dengan Budaya Korporat? Selama ini, bila menengok kasus2 privatisasi, sering ada anggapan keliru bahwa korporatisasi cenderung menuju pada pembentukan budaya yang individualistis dan mengejar nilai2 ekonomi saja tanpa memperdulikan kesejahteraan umum.

Menurut Prof. Rhenald Kasali, PhD, dalam Pidato Ilmiah dalam acara Wisuda Pascasarjana UI, 5 Februari 2005 yang berjudul Korporatisasi & Transformasi Kultural: Sebuah Upaya Membentuk Karakter Bangsa Melalui "Korporat" Yang Sehat, nilai2 (budaya) dan cara kerja utama korporat ada 10, yaitu:
1. Kepuasaan pelanggan
2. Proses yang efisien
3. Adaptif dan inovatif
4. Pencatatan resmi dan transparansi
5. Standar mutu
6. Proses pembelajaran (learning)
7. Citra positif
8. Penghargaan terhadap prestasi
9. Kompetitif
10. Standar etika.

Lalu apa kaitan 3 pengertian di atas dengan realita sehari-hari? Mari kita tengok, mumpung udah ada UU Keterbukaan Informasi Publik, sekarang dokumen anggaran pembangunan sudah dapat diakses oleh publik. Bila ditengok lebih cermat dan dihitung, berapa banyak alokasi untuk perjalanan dinas, dengan "rumah" kegiatan berupa pembinaan, sosialisasi, diskusi, dll. Pada masa kini, sudah banyak teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dapat dijadikan tools untuk mengelola "rumah" dari kegiatan2 di atas.

Bila menengok cara kerja media tv, sering kita lihat telewawancara, telereport, dan tele2 lain, yang secara hitung2an sangat efektif dan efisien. Ini adalah teknologi masa kini dan sudah friendly! Namun, di dalam institusi publik, masih banyak yang belum tergugah, mau, paham, dan mengaplikasikan. Bila iya, berapa banyak realokasi anggaran dari alokasi "rumah2" tadi yang dapat digunakan untuk pembangunan yang lebih penting dan segera.

Dalam orasinya, Prof. Kasali mengkategorikan 4 lembaga yang sudah layak dan seharusnya melakukan transformasi menuju korporatisasi, yaitu: 1) Badan2 pemerintah (kementerian dan lembaga non kementerian), BUMN/D, 3) Badan2 non usaha milik negara (universitas, hospital), dan 4) Badan2 usaha swasta/private company yang dikelola oleh pendiri/keluarga tradisional.

Bagaimana dengan badan2 pemerintah yang tidak menjalankan kegiatan ekonomi produktif? Sebenarnya bukan ini (kegiatan ekonomi produktif) masalahnya namun, badan2 tersebut harus mampu berevolusi dan mengadopsi budaya2 korporat untuk melayani publik secara entrepreneurial  dan efisien. Sudah mulai banyak, badan2 pemerintah yang telah seperti ini, dapat dilihat dari indikator sederhana, yaitu: situs2 elektronik dari badan2 tersebut yang selalu informatif dan adaptif.

Sampai sekarang ini terus digalakkan pemangkasan birokrasi, walaupun dari data2 perbandingan layanan birokrasi antar negara, NKRI masih termasuk kategori banyak birokrasi. Ini adalah tantangan dalam reformasi birokrasi atau bahasa globalnya berbudaya korporat. Tantangan utama untuk badan2 pemerintah adalah ianya masih BERPERILAKU bahwa:
1. Layanannya bukan mengejar keuntungan (uang/ekonomi), padahal keuntungan tidak diidentikkan dengan uang/ekonomi, namun lebih jauh adalah manfaat (benefit) dan dampak positif (impact) terhadap kesejahteraan publik
2. Pemanfaatan anggaran dilihat dari tingkat penyerapan, walaupun di atas kertas perencanaan sudah berbasis data
3. Pemerintah sesuai konstitusi harus menjamin kesejahteraan penduduk, sehingga masih ada subsidi, bantuan dan stabilisasi neraca. Untuk hal ini, sering terjadi revisi anggaran yang cenderung menjadi pengurangan, padahal di awal perencanaan sudah seharusnya diantisipasi
4. Kreatif dan inovatif  belum terbuka untuk diaplikasikan, padahal 2 hal ini adalah kunci untuk berkinerja yang efektif dan efisien. Susah mencari pegawai yang dulunya kreatif dan inovatif, setelah menjadi pejabat publik/negara, tetap kreatif dan inovatif. Apalagi mencari pegawai yang tinggi budaya kreatif dan inovatifnya. Ini terkait juga dengan dukungan lingkungan, mungkin?
5. Prosedural dan loyal adalah melaksanakan perintah atasan, ini terkait dengan No. 4 karena bisa mematikan budaya kreatif dan inovatif, padahal prosedural dan loyal bisa juga diidentikkan dengan cerdas, tanggap, kreatif, inovatif, dan disiplin
6. Penilaian kinerja bukan berdasarkan keparipurnaan, mulai dari input, proses s/d hasil, padahal dengan cara ini motivasi dan kenyamanan bekerja menjadi lebih tinggi. Akibatnya masih saja ada kesenjangan kesejahteraan yang jauh antara pegawai level atas, menengah, pertama, dan biasa. Inipun masih ditambah bahwa rerata antar level sama, padahal tanggung jawab dan wewenang dan prestasi tentu berbeda
7. Budaya dalam lingkungan/organisasi kerja masih banyak toleransi dan kebersamaan yang sering disalahaplikasikan, padahal harus berdasar komitmen untuk melaksanakan misi dan mencapai tujuan. Pernah dengarkan bahwa di NKRI ini ada korupsi berjamaah? Atau ".....ah dia juga kecipratan koq, walaupun tidak berbuat (mengambil) langsung"
8. Taat prosedur/kesetiaan, kenyamanan, dan stabilitas adalah hal yang utama, padalah sebagai suatu organisasi, harus cerdas mengelola modal sosial (jaringan, nilai dan kepercayaan), modal manusia, dan modal ekonomi. Di sini, yang dikedepankan adalah bagaimana menciptakan pelanggan (publik) yang puas/nyaman, memberi informasi pada publik agar menilai citra badan2 pemerintah dengan realita, dan akhirnya dengan tercapainya 2 hal ini, kesejahteraan yang diterimapun adalah sesuatu yang murni dari hasil kinerja yang positif tadi.

Nah, tidak sulit bukan untuk berbudaya korporat dalam bekerja, baik sebagai individu, tim, maupun organisasi. Yang penting ada keterbukaan terhadap perubahan ini, agar perilaku yang muncul adalah perilaku yang memberi ruang bagi budaya korporat ini.

Salam SEHAT.

Kamis, 04 November 2010

Karakter Kepemimpinan dalam Mengelola Hidup (Kebijakan Publik Yang Unggul)

Dear Pembaca yang Budiman,

Manusia adalah Pengelola Hidup, baik kehidupan alam maupun kehidupan pribadi. Berarti manusia menjadi Pemimpin untuk kehidupan tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dapat dipahami arti dari beberapa esensi dari tulisan ini, yaitu:
1. Pemimpin dan Kepemimpinan, berkaitan dengan memimpin, bimbingan dan tuntunan.
2. Kecerdasan adalah kesempurnaan dari perkembangan akal budi (untuk berpikir, mengerti, dsb).
3. Kecerdasan Intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.
4. Kecerdasan Emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar.
5. Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya TUHAN Yang Maha Esa.
6. Bijaksana adalah perilaku cerdas yang selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb.

Selain itu, dengan pengertian sederhana, juga termasuk Memberikan Harapan, yaitu perilaku cerdas yang mampu memberikan harapan bahwa kehidupan dapat dibangun lebih produktif sehingga manusia lain secara mandiri termotivasi untuk membangun. Satu esensi lagi adalah Karisma, yaitu karunia yang diberikan oleh TUHAN YME kepada seseorang.

Nah, sesuai dengan konteks judul tulisan, mari kita dalami esensi dari Kebijakan Publik Yang Unggul. Banyak ahli kebijakan publik yang menyadari bahwa Negara dan Bangsa yang Unggul adalah yang memiliki kebijakan publik yang unggul. Bahasa sederhana adalah Ketahanan Nasional suatu Negara dan Bangsa ditentukan oleh Kebijakan Publik. Pertanyaan sekarang adalah Kenapa harus Kebijakan Publik?

Tentu kita menyadari bahwa suatu negara dan bangsa ada di dunia ini karena merdeka/berdaulat, ada penduduk, ada wilayah, ada sistem dan diakui oleh negara dan bangsa lain. Nah, negara dan bangsa yang merdeka atau berdaulat harus ada institusi publik, yaitu organisasi, pengelola, sarpras dan sistem. Produk dari institusi ini adalah kebijakan publik, yang mengatur tata kehidupan bernegara dan berbangsa. Inilah dasar, baru disusul dengan pengelolaan sumberdaya alam, penduduk, anggaran, nilai, dll untuk pembangunan.

Bagaimana dengan hukum, dalam hal ini hukum adalah tata aturan tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilanggar oleh elemen negara dan bangsa. Hukum ini berangkat dari kebijakan publik yang sudah diundangkan atau dikodefikasikan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih berefek dan berdampak dalam pembangunan adalah kebijakan publik. Kebijakan publik ini bisa bersifat aturan yang terdokumentasi resmi dan bersifat pernyataan pejabat publik.

Nah, dalam kasus NKRI bagaimana Kepemimpinan Publik yang ada? Kita bisa melihat peristiwa-peristiwa dalam pembangunan, kehidupan sehari-hari, bencana, dll. Apa dan bagaimana kebijakan publik yang dihasilkan. Apakah mampu mengenali isu dan menuntaskan pokok permasalahan? Ambil contoh implementasi Negara Kesatuan RI dengan kebijakan desentralisasi. Bagaimana pengaturan kehidupan bernegara dan berbangsa di negara kesatuan? Apakah dasar dari kesatuan adalah terpusat/sentralisasi? atau dalam beberapa tataran boleh desentralisasi? Sudah ada dinamika terkait ini, UU No. 22 dan No. 23 tahun 1999 dan UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004, dan tetap meninggalkan masalah! Masih banyak lagi, UU Sistem Jaminan Sosial Nasional, UU Sistem Pendidikan Nasional, dan kebijakan-kebijakan publik lain terkait kehidupan/pembangunan ekonomi.

Kebijakan desentralisasi ini berproses mulai yang dari namanya kewenangan s/d urusan pemerintahan. Pada intinya, kebijakan tersebut harus memberikan harapan untuk perubahan yang lebih baik, benar dan tepat. Namun itu semua masih berproses.

Nah, dari semenjak NKRI ini berdiri, mulai dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden A. Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY, mungkin kita dapat menilai karakter kepemimpinan masing-masing berdasarkan esensi tulisan ini.

Presiden Soekarno dikenal sebagai salah satu orator ulung terutama dalam menjaga integrasi/kesatuan, salah satu bukti ekstrem adalah paham Nasakom. Namun, beliau tidak unggul dalam membangun NKRI, buktinya proyek mercusuar yang meninggalkan masalah. Presiden Soeharto dikenal sebagai salah satu pemimpin dengan strategi yang kuat, mungkin modal pengalaman dalam militer beliau, berhasil membangun NKRI secara umum. Namun, beliau tidak unggul dalam membangun peradaban NKRI, karena HAM dan demokrasi tidak berkembang.

Presiden BJ Habibie adalah pemimpin dalam masa transisi, yang punya keberhasilan membangun dasar kehidupan berdemokrasi di NKRI. Namun, beliau gagal memberikan harapan untuk pembangunan yang lebih produktif, dan tidak mendapat kepercayaan MPR dalam sidang umum MPR tentang Pertanggungjawaban Presiden sebagai Mandataris MPR.

Presiden A. Wahid adalah pemimpin yang merakyat dan membuka keran kehidupan berdemokrasi secara total. Namun, kebijakan-kebijakan dan komunikasi beliau menimbulkan permasalahan dengan elemen negara dan bangsa di NKRI dan negara lain. Presiden Megawati adalah pemimpin perempuan pertama di NKRI dan berhasil mempersiapkan Pemilu Langsung Presiden di NKRI ini. Namun, pada masa beliau permasalahan akibat krisis multidimensi, utamanya perbankan, semakin dalam.

Presiden SBY, beliau adalah pemimpin yang diberi amanah langsung oleh rakyat untuk masa pemerintahan 2 x 5 tahun. Agenda pemerintahan beliau adalah Peace, Prosperity, Democracy, and Justice (Kedamaian, Kemakmuran, Demokrasi, dan Keadilan) merupakan cita-cita luhur semua manusia dan pemimpin yang amanah. Namun, sama seperti presiden-presiden sejak era reformasi, beliau sangat banyak menghadapi hambatan, tantangan dan ancaman.

Ini semua hanya sedikit catatan yang mengutip dari sumber-sumber di bawah. Namun, tanpa menafikan itu semua, kita sadar dan negara dan bangsa lain juga sadar bahwa NKRI ini adalah wilayah yang kaya dan berpotensi positif untuk kehidupan yang lebih baik. Nah, yang belum kita sadari sebagai negara dan bangsa adalah semua kekayaan dan potensi tersebut harus dikelola dengan cerdas, bijaksana dan berpengharapan.

Hidup dan membangun di NKRI harus CERDAS, apa dan bagaimana tujuan, misi, strategi dan upaya harus diketahui dan dipahami sebelum implementasi. Juga harus BIJAKSANA, semua yang digunakan harus bermanfaat dan tidak meninggalkan masalah ke depan dan untuk anak cucu. Bersamaan dengan kedua karakter tersebut, harus BERPENGHARAPAN, karena ini adalah sifat dasar manusia yang hidup sehingga apapun upaya sebagai manusia untuk hidup dan membangun berlandaskan harapan positif bahwa semua itu pasti akan produktif untuk kehidupan.

Demikian sekilas catatan tentang kehidupan di NKRI. Salam SEHAT.

Bahan bacaan:
1. Dr. Riant Nugroho. Public Policy. Teori Kebijakan-Analisis Kebijakan-Proses Kebijakan-Perumusan, Implementasi, Evaluasi, Revisi-Risk Management Dalam Kebijakan Publik-Kebijakan Sebagai The Fifth Estate-Metode Penelitian Kebijakan. Penerbit Elex Media Komputindo. 2008
2. Ishak Rafick, Wartawan Senior. Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia. Jalan Baru Membangun Indonesia. Ufuk Press. Cetakan III. Maret 2009.
3. Media-media cetak Nasional.
4. Media/Situs elektronik.